Malam hari yang sunyi. Hannah sedang tertidur saat Huda mendatanginya. Dia istri pertama Huda. Usianya 15 tahun lebih tua daripada Huda. Kata orang, begitulah jodoh, tidak kira usia.
Di tempat pembaringan Hannah memberitahu Huda tentang tetangganya yang mualaf. Orang itu menenggak arak sebagai pelampiasan amarahnya kepada tetangga muslim lainnya.
Kata Huda, “Jika Allah SWT memberi, maka pemberianNya sempurna. Jika Allah memberi hidayah, pasti petunjukNya sempurna. Setelah itu Allah memberi memberi pilihan-pilihan. Siapa saja yang diberiNya dibebaskanNya untuk mentaati atau mengingkarinya.”
“Dunia ini darul asbab. Ada sebab ada akibat. Itu artinya, jika seseorang memilih, maka pasti akan ada konsekuensi-konsekuensi logis sesudahnya.”
Subhananallah
Tampilkan postingan dengan label pihuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pihuda. Tampilkan semua postingan
19/10/2007
08/10/2007
Tholhah Tidak Mudik
“Tholhah, kamu pulang ke Indo lebaran ini?”
“Insya Allah tidak.” Jawab Tholhah atas pertanyaan Huda.
“Bukankah mudik berarti menjalin kembali tali silaturrahim? Dan bukankah Rasulullah SAW adalah orang yang paling depan dalam menjalin silaturrahim?”
“Benar. Tapi bukan itu masalahnya”
“Lalu apa?”
“Ah… sederhana saja. Rasulullah ga pernah mudik (ke Mekkah) untuk merayakan iedul fitri, bahkan betapapun beliau sangat merindukan tempat kelahirannya (Mekkah).”
Subhanallah.
“Insya Allah tidak.” Jawab Tholhah atas pertanyaan Huda.
“Bukankah mudik berarti menjalin kembali tali silaturrahim? Dan bukankah Rasulullah SAW adalah orang yang paling depan dalam menjalin silaturrahim?”
“Benar. Tapi bukan itu masalahnya”
“Lalu apa?”
“Ah… sederhana saja. Rasulullah ga pernah mudik (ke Mekkah) untuk merayakan iedul fitri, bahkan betapapun beliau sangat merindukan tempat kelahirannya (Mekkah).”
Subhanallah.
19/09/2007
Berusaha Memperbaiki Diri
“Kemana saja Pi Huda? Sudah berapa hari ini tidak kelihatan.” sapa Tholhah di sore hari setelah dia mengucapkan salam kepada Huda.
“Aku bergabung dengan kawan-kawan di masjid Mapsong. Itikaf beberapa hari di sana sambil memperbaiki diri.”
“Memangnya ada kerusakan apa sehingga perlu diperbaiki?”
“Sebenarnya yang paling patut diperbaiki adalah iman dan amal. Tapi aku benar-benar gundah beberapa hari ini. Aku berusaha memperbaiki sifat-sifat diriku.”
“Kenapa?”
“Seseorang telah marah. Dari untaian kata-kata amarahnya tersebut aku mencatat betapa aku adalah seorang yang egois, akal bulus, tidak punya pendirian, mau menang sendiri, dan sifat-sifat jelek lain yang seharusnya aku malu untuk memilikinya.”
Subhanallah
“Aku bergabung dengan kawan-kawan di masjid Mapsong. Itikaf beberapa hari di sana sambil memperbaiki diri.”
“Memangnya ada kerusakan apa sehingga perlu diperbaiki?”
“Sebenarnya yang paling patut diperbaiki adalah iman dan amal. Tapi aku benar-benar gundah beberapa hari ini. Aku berusaha memperbaiki sifat-sifat diriku.”
“Kenapa?”
“Seseorang telah marah. Dari untaian kata-kata amarahnya tersebut aku mencatat betapa aku adalah seorang yang egois, akal bulus, tidak punya pendirian, mau menang sendiri, dan sifat-sifat jelek lain yang seharusnya aku malu untuk memilikinya.”
Subhanallah
12/09/2007
Emoh Dipanggil Khun
"Khun Huda, assalamu’alaykum. Sabai di mai? Apa kabar?” sapa Tholhah saat bertemu dengan Huda.
“Wa’alaykumus salam warahmatullah. Alhamdulillah baik, sabai di. Khun sabai di mai? Anda baik juga?”
“Sabai di. Alhamdulillah.”
“Tholhah, panggil saja aku Huda atau … kalo mau Pi Huda.”
Kata Huda, “Buat saya kata khun terlalu formal. Di Thailand, sebutan khun digunakan di pemerintahan, di kantor-kantor dan di institusi-institusi resmi. Di kalangan masyarakat awam, kita biasa menyebut orang dengan namanya. Bahkan banyak orang sepantaran anakku yang tidak cangggung memanggilku dengan Huda saja. Mungkin kurang sopan, tapi justru menjauhkan rasa senioritas terutama dalam berpendapat dan berfikir.”
“Oh… maaf kalo gitu. Di Indonesia, kami biasa memanggil lelaki yang lebih senior dengan sebutan pak atau bapak.”
Subhanallah
“Wa’alaykumus salam warahmatullah. Alhamdulillah baik, sabai di. Khun sabai di mai? Anda baik juga?”
“Sabai di. Alhamdulillah.”
“Tholhah, panggil saja aku Huda atau … kalo mau Pi Huda.”
Kata Huda, “Buat saya kata khun terlalu formal. Di Thailand, sebutan khun digunakan di pemerintahan, di kantor-kantor dan di institusi-institusi resmi. Di kalangan masyarakat awam, kita biasa menyebut orang dengan namanya. Bahkan banyak orang sepantaran anakku yang tidak cangggung memanggilku dengan Huda saja. Mungkin kurang sopan, tapi justru menjauhkan rasa senioritas terutama dalam berpendapat dan berfikir.”
“Oh… maaf kalo gitu. Di Indonesia, kami biasa memanggil lelaki yang lebih senior dengan sebutan pak atau bapak.”
Subhanallah
11/09/2007
Ingin Menjadi Suami Saleh
“Pi, meski sering gagal, saya selalu bercita-cita untuk menjadi suami saleh. Bukan untuk menyenangkan istri. Bagi saya, suami saleh adalah satu kualitas yang mesti dicapai oleh setiap lelaki mukmin dalam hidupnya. Kualitas ini mesti tidak dipengaruhi oleh ketaatan atau ketidaktaatan istri,“ kata Ahmad kepada Huda.
“Benar,“ kata Huda. “Semakin tinggi kualitas kesalehan seseorang, semakin tinggi pula derajatnya di sisi Allah SWT. Keadaan ini menuntut kesadaran untuk mewujudkannya dan mewujudkannya mesti dalam keadaan sadar. Tanpa kesadaran ini, niscaya kita tidak akan pernah bergairah untuk menjadi suami saleh.“
“Kalau saja kesalehan adalah satu bentuk bangunan, maka pondasi dan tiang-tiangnya adalah ketaatan kepada Allah SWT, sedangkan bentuk rupanya adalah sunnah Rasululllah SAW.“
Apa yang disampaikan Ahmad membuat Huda berfikir kembali tentang dirinya.
Subhanallah
“Benar,“ kata Huda. “Semakin tinggi kualitas kesalehan seseorang, semakin tinggi pula derajatnya di sisi Allah SWT. Keadaan ini menuntut kesadaran untuk mewujudkannya dan mewujudkannya mesti dalam keadaan sadar. Tanpa kesadaran ini, niscaya kita tidak akan pernah bergairah untuk menjadi suami saleh.“
“Kalau saja kesalehan adalah satu bentuk bangunan, maka pondasi dan tiang-tiangnya adalah ketaatan kepada Allah SWT, sedangkan bentuk rupanya adalah sunnah Rasululllah SAW.“
Apa yang disampaikan Ahmad membuat Huda berfikir kembali tentang dirinya.
Subhanallah
10/09/2007
Menyenangkan Orang Lain
Tidak biasanya Amin pergi ke masjid. Selain tempat tinggalnya agak jauh, dia sering terlalu letih mencari nafkah, lebih dari 13 jam sehari. Sebagai kernet bus dia keluar rumah pagi-pagi buta, pulang malam hari.
Setelah sholat maghrib ada pengajian ringkas. Materi yang disampaikan adalah kiat-kiat meningkatkan iman dengan cara mengunjungi kampung lain. Dari musyawarah selanjutnya diketahui bahwa tempat tujuannya cukup jauh, sehingga setiap peserta diminta untuk menyiapkan bekalnya masing-masing.
Amin mendatangi Huda. Katanya, “Pi Huda, phom pay duay, aku mau pergi juga. Aku cuti hingga hari Senin yang akan datang.” Yang diajak bicara memahaminya, lalu Amin diajak Huda ke rumahnya.
“Ini dari Pi Huda,” kata Amin kepada istrinya di rumah. Dia memperlihatkan kantung yang berisi beberapa bahan makanan dan uang 200 Baht. “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…” sambut istrinya, Halimah, seorang muallaf.
Subhanallah
Setelah sholat maghrib ada pengajian ringkas. Materi yang disampaikan adalah kiat-kiat meningkatkan iman dengan cara mengunjungi kampung lain. Dari musyawarah selanjutnya diketahui bahwa tempat tujuannya cukup jauh, sehingga setiap peserta diminta untuk menyiapkan bekalnya masing-masing.
Amin mendatangi Huda. Katanya, “Pi Huda, phom pay duay, aku mau pergi juga. Aku cuti hingga hari Senin yang akan datang.” Yang diajak bicara memahaminya, lalu Amin diajak Huda ke rumahnya.
“Ini dari Pi Huda,” kata Amin kepada istrinya di rumah. Dia memperlihatkan kantung yang berisi beberapa bahan makanan dan uang 200 Baht. “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…” sambut istrinya, Halimah, seorang muallaf.
Subhanallah
07/09/2007
Menyenangkan Orang Lain
Tidak biasanya Amin pergi ke masjid. Selain tempat tinggalnya agak jauh, dia terlalu letih mencari nafkah, lebih dari 13 jam sehari. Pekerjaannya sebagai kernet bus telah memaksanya untuk pergi pagi-pagi buta, pulang malam hari.
Setelah sholat maghrib ada ceramah ringkas. Materi yang disampaikan adalah kiat-kiat meningkatkan iman dengan cara mengunjungi kampung lain. Dari musyawarah selanjutnya diketahui bahwa kamupng yang akan dikunjungi cukup jauh, sehingga setiap peserta diminta untuk menyiapkan bekalnya masing-masing.
Amin mendatangi Huda. Katanya, “Pi Huda, ana mau ikut. Ana cuti hingga hari Senin yang akan datang.” Yang diajak bicara memahaminya, lalu Amin diajak Huda ke rumahnya.
“Alhamdulillah, ini dari Pi Huda,” kata Amin kepada istrinya di rumah. Dia memperlihatkan kantung yang berisi beberapa bahan makanan dan uang 200 Baht. “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…” sambut istrinya, Halimah, seorang muallaf.
Subhanallah
Setelah sholat maghrib ada ceramah ringkas. Materi yang disampaikan adalah kiat-kiat meningkatkan iman dengan cara mengunjungi kampung lain. Dari musyawarah selanjutnya diketahui bahwa kamupng yang akan dikunjungi cukup jauh, sehingga setiap peserta diminta untuk menyiapkan bekalnya masing-masing.
Amin mendatangi Huda. Katanya, “Pi Huda, ana mau ikut. Ana cuti hingga hari Senin yang akan datang.” Yang diajak bicara memahaminya, lalu Amin diajak Huda ke rumahnya.
“Alhamdulillah, ini dari Pi Huda,” kata Amin kepada istrinya di rumah. Dia memperlihatkan kantung yang berisi beberapa bahan makanan dan uang 200 Baht. “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…” sambut istrinya, Halimah, seorang muallaf.
Subhanallah
Nasehat kepada Sarah
Malam hari, istri kedua Huda mengeluh. Sarah, demikian namanya, merasa seolah-olah seperti budak yang diperas suaminya. Bagaimana tidak, dengan 4 orang anak, praktis Sarah bekerja tiada henti di rumah, dari pagi hingga malam, dari mengurus anak hingga bebersih, singkatnya hampir tidak ada waktu istirahat baginya.
Huda memang tidak memberi kesempatan kepada wanita-wanita lain untuk membantu istrinya memasak, mencuci, berkemas, mengatur anak-anak, dlsb. Bukan karena dia tidak mampu menghadirkan seorang pembantu pun, tetapi lebih karena untuk menjaga hati dan pandangannya serta untuk melatih keluarganya hidup mandiri.
Nasehat Huda kepada Sarah, “Sayang, dalam setiap kerja selalu ada kesempatan untuk memperoleh nilai-nilai yang tinggi dari Allah SWT. Yang diperlukan hanyalah sedikit upaya untuk dapat mensyukuri dan menikmatinya. Rasa suka pasti akan menggugurkan letih dan lelah, sedangkan rasa benci mengakibatkan ketidaknyamanan pada semua bagian tubuh.”
Subhanallah
Huda memang tidak memberi kesempatan kepada wanita-wanita lain untuk membantu istrinya memasak, mencuci, berkemas, mengatur anak-anak, dlsb. Bukan karena dia tidak mampu menghadirkan seorang pembantu pun, tetapi lebih karena untuk menjaga hati dan pandangannya serta untuk melatih keluarganya hidup mandiri.
Nasehat Huda kepada Sarah, “Sayang, dalam setiap kerja selalu ada kesempatan untuk memperoleh nilai-nilai yang tinggi dari Allah SWT. Yang diperlukan hanyalah sedikit upaya untuk dapat mensyukuri dan menikmatinya. Rasa suka pasti akan menggugurkan letih dan lelah, sedangkan rasa benci mengakibatkan ketidaknyamanan pada semua bagian tubuh.”
Subhanallah
06/09/2007
Melihat Musafir Tertidur
Sudah dua hari Huda melihat seseorang dengan pakaian yang agak kumal tertidur di bale-bale tukang ojek. Dia tertidur pulas; tidak terganggu oleh gigitan nyamuk dan tidak pula terbangunkan oleh suara adzan shubuh. Di tangannya ada gelang benang yang biasa dikenakan oleh sebagian orang Budha di Thailand.
Melihat keadaannya, Huda berniat menyapa dan menanyakan keperluannya. Pengalamannya mengajarkan bahwa betapa susahnya menjadi musafir tanpa bekal yang cukup dan tanpa pengetahuan yang memadai akan daerah yang didatangi. Pikirnya, barangkali saja ada yang bisa dia bantu.
Seperti biasanya Huda kembali ke rumah menjelang waktu Isyrok. Kalo saja bukan karena kewajibannya untuk mencari nafkah bagi keluarganya, dia akan lebih senang untuk berdiam diri di masjid hingga dapat menyempurnakan i’tikafnya dengan sholat Isyrok 2 atau 4 rakaat, pada saat matahari sudah setinggi tombak.
Di luar sana, ternyata musafir tadi sudah pergi, entah kemana.
Subhanallah
Melihat keadaannya, Huda berniat menyapa dan menanyakan keperluannya. Pengalamannya mengajarkan bahwa betapa susahnya menjadi musafir tanpa bekal yang cukup dan tanpa pengetahuan yang memadai akan daerah yang didatangi. Pikirnya, barangkali saja ada yang bisa dia bantu.
Seperti biasanya Huda kembali ke rumah menjelang waktu Isyrok. Kalo saja bukan karena kewajibannya untuk mencari nafkah bagi keluarganya, dia akan lebih senang untuk berdiam diri di masjid hingga dapat menyempurnakan i’tikafnya dengan sholat Isyrok 2 atau 4 rakaat, pada saat matahari sudah setinggi tombak.
Di luar sana, ternyata musafir tadi sudah pergi, entah kemana.
Subhanallah
05/09/2007
Doa Ulfah untuk Umi
Ulfah bangun tengah malam. Dia ingat, sebelum tidur dia telah berdoa agar Allah SWT membangunkannya tengah malam. Segera setelah merasa sadar dan kuat, dia bergerak menuju kamar mandi. Dibukanya kran air lalu dia mulai berwudhu.
Suara gemericik air di kamar mandi membangunkan Huda. Takut kalo kran air lupa ditutup, Huda bangun dan bergerak untuk memeriksanya. Di sana, anak pertama dari istri ketiganya, Rahmah, sedang berwudhu. Umurnya baru lima tahun.
“Ulfah mau apa ya?” tanya Huda.
“Ulfah mau sholat. Ulfah sudah janji sebelum tidur. Ulfah mau minta Allah menyembuhkan sakit umi…”
Huda memeluk Ulfah. Diciuminya anaknya. Air matanya meleleh. Lalu dengan suara yang lirih dia berkata, “Alhamdulillahil ladzi bi ni’matihi tatimush sholihaat.”
Subhanallah
Suara gemericik air di kamar mandi membangunkan Huda. Takut kalo kran air lupa ditutup, Huda bangun dan bergerak untuk memeriksanya. Di sana, anak pertama dari istri ketiganya, Rahmah, sedang berwudhu. Umurnya baru lima tahun.
“Ulfah mau apa ya?” tanya Huda.
“Ulfah mau sholat. Ulfah sudah janji sebelum tidur. Ulfah mau minta Allah menyembuhkan sakit umi…”
Huda memeluk Ulfah. Diciuminya anaknya. Air matanya meleleh. Lalu dengan suara yang lirih dia berkata, “Alhamdulillahil ladzi bi ni’matihi tatimush sholihaat.”
Subhanallah
Mengajak Makan Kawan Bermasalah
Ahmad menemui Ishak. Tidak sebagaimana biasanya, Ishak tidak terlihat di pangkalan tukang ojek di gang sebelah masjid Hidayatus Salikin. Kawannya memberitahu bahwa dia ada di masjid.
Ketika Ahmad menanyakan kabarnya, Ishak menatapnya dengan pandangan hampa. Dia menjawab, “Motor saya disita…” Suaranya lemah.
Ketika didesak, Ishak menjelaskan masalahnya. Sudah 5 bulan dia tidak membayar cicilan kredit sepeda motor. Katanya, ada saja keperluan mendadak yang menyita uang setorannya.
Hari ini Ahmad cuti. Dia mengajak Ishak untuk makan siang bersama. Di rumahnya, istrinya, Athikah, menghidangkan tomyam kung, sop khas Thailand. Rasanya, sedaaap sekali…
Subhanallah
Ketika Ahmad menanyakan kabarnya, Ishak menatapnya dengan pandangan hampa. Dia menjawab, “Motor saya disita…” Suaranya lemah.
Ketika didesak, Ishak menjelaskan masalahnya. Sudah 5 bulan dia tidak membayar cicilan kredit sepeda motor. Katanya, ada saja keperluan mendadak yang menyita uang setorannya.
Hari ini Ahmad cuti. Dia mengajak Ishak untuk makan siang bersama. Di rumahnya, istrinya, Athikah, menghidangkan tomyam kung, sop khas Thailand. Rasanya, sedaaap sekali…
Subhanallah
04/09/2007
Berkunjung ke Orang Indo
Ba’da maghrib Amin mengajak Huda berkunjung ke rumah seseorang yang tinggal di sebuah apartemen yang letaknya tidak jauh dari masjid. Kata Amin, “Kita akan ke rumah Tholhah. Kaw khun Indo. Dia orang Indonesia.”
Tholhah ternyata type orang yang sangat senang dikunjungi. Meskipun belum tahu banyak kosa kata Thai, dia terus berusaha untuk menyambung setiap obrolan.
Yang menakjubkan Amin bukan makanan khas Indonesia, yang dibuat istrinya, tetapi Tholhah telah menata ruangannya dengan hijab sedemikian rupa, sehingga tetamu lelaki tidak terhalang untuk sekedar duduk di dalam apartemennya yang tidak berapa besar.
Hampir selalu muncul kegembiraan pada setiap kali Huda berkunjung kepada tetangganya. Kunjungan ke tempat Tholhah juga membuat hatinya senang. Huda membenarkan info dari Rasulullah SAW bahwa selain mendapat rezeki instan, silaturrahim juga memanjangkan umur.
Subhanallah
Tholhah ternyata type orang yang sangat senang dikunjungi. Meskipun belum tahu banyak kosa kata Thai, dia terus berusaha untuk menyambung setiap obrolan.
Yang menakjubkan Amin bukan makanan khas Indonesia, yang dibuat istrinya, tetapi Tholhah telah menata ruangannya dengan hijab sedemikian rupa, sehingga tetamu lelaki tidak terhalang untuk sekedar duduk di dalam apartemennya yang tidak berapa besar.
Hampir selalu muncul kegembiraan pada setiap kali Huda berkunjung kepada tetangganya. Kunjungan ke tempat Tholhah juga membuat hatinya senang. Huda membenarkan info dari Rasulullah SAW bahwa selain mendapat rezeki instan, silaturrahim juga memanjangkan umur.
Subhanallah
03/09/2007
Pelukan dan Celoteh Anak
Huda memeluk anaknya. Namanya Rafa, umurnya baru 1 tahun. Dia anak ke 8 dari 16 bersaudara. Dia merasakan betapa anak ini membuatnya rindu setiap kali dia berada di luar rumah. Yang membuat anak ini menawan hatinya barangkali adalah karena dia sangat murah senyum. Senyuman khas anak-anak, lucu dan menggemaskan.
Allah SWT menciptakan suasana-suasana dan keadaan-keadaan yang merupakan ayat-ayatNya yang menunjukkan betapa Dia maha pengasih lagi maha penyayang. Huda benar-benar merasakan betapa rasa letih-lelahnya hilang dalam sekejap oleh sambutan gembira Rafa, pelukan dan ketawa, bahkan oleh celotehannya yang lucu.
Kata Huda kepada Sarah, istrinya, “Rasa bahagia dipeluk, digelayuti dan dipegang anak seperti ini tidak bisa diganti dengan hal-hal yang lain. Maka aku memaklumi temanku, bagaimana dia rela meninggalkan pekerjaannya setelah dia benar-benar kehilangan pelukan dan celotehan anaknya karena bertugas di offshore. Padahal gajinya bukan main besar untuk ukuran kita.”
Subhanallah
Allah SWT menciptakan suasana-suasana dan keadaan-keadaan yang merupakan ayat-ayatNya yang menunjukkan betapa Dia maha pengasih lagi maha penyayang. Huda benar-benar merasakan betapa rasa letih-lelahnya hilang dalam sekejap oleh sambutan gembira Rafa, pelukan dan ketawa, bahkan oleh celotehannya yang lucu.
Kata Huda kepada Sarah, istrinya, “Rasa bahagia dipeluk, digelayuti dan dipegang anak seperti ini tidak bisa diganti dengan hal-hal yang lain. Maka aku memaklumi temanku, bagaimana dia rela meninggalkan pekerjaannya setelah dia benar-benar kehilangan pelukan dan celotehan anaknya karena bertugas di offshore. Padahal gajinya bukan main besar untuk ukuran kita.”
Subhanallah
31/08/2007
Dikesan dari Tanda-tandanya
Malam yang menyenangkan. Seorang musafir berkenan menceritakan pengalamannya kepada Huda dan Ahmad. Katanya, hampir segala sesuatu dapat dikesan dari tanda-tandanya.
Orang yang benar-benar mencintai saudaranya biasanya tidak pernah mampu melihat kesalahan saudaranya terhadap dirinya. Pada pandangannya, semua perbuatan saudaranya terhadap dirinya menyenangkan belaka, sampai-sampai perbuatan yang bagi orang lain menyakitkan hati pun tidak akan menyinggung hatinya.
Orang yang membenci saudaranya biasanya selalu gagal melihat kebaikan yang dibuat saudaranya terhadap dirinya. Pada pandangannya, semua perbuatan saudaranya terhadap dirinya selalu menyebalkan, sampai-sampai senyuman yang tidak punya tendensi apa-apapun akan dianggapnya sebagai kesyukuran atas musibah yang dialaminya.
Huda dan Ahmad terdiam. Mereka merenungkan tanda-tanda persahabatan mereka. Mereka coba mengukur kadar cinta masing-masing dilihat dari tanda-tanda perhatian dan kepedulian mereka selama ini.
Subhanallah
Orang yang benar-benar mencintai saudaranya biasanya tidak pernah mampu melihat kesalahan saudaranya terhadap dirinya. Pada pandangannya, semua perbuatan saudaranya terhadap dirinya menyenangkan belaka, sampai-sampai perbuatan yang bagi orang lain menyakitkan hati pun tidak akan menyinggung hatinya.
Orang yang membenci saudaranya biasanya selalu gagal melihat kebaikan yang dibuat saudaranya terhadap dirinya. Pada pandangannya, semua perbuatan saudaranya terhadap dirinya selalu menyebalkan, sampai-sampai senyuman yang tidak punya tendensi apa-apapun akan dianggapnya sebagai kesyukuran atas musibah yang dialaminya.
Huda dan Ahmad terdiam. Mereka merenungkan tanda-tanda persahabatan mereka. Mereka coba mengukur kadar cinta masing-masing dilihat dari tanda-tanda perhatian dan kepedulian mereka selama ini.
Subhanallah
28/08/2007
Menyambut Ramadhan
Selalu ada cara bagi Allah SWT dalam mengingatkan hamba-hambaNya untuk menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah. Ba’da sholat Ashar, seorang pedagang yang baru pulang dari Bangkok memberi salam dan menyapa Ahmad, tetangga Huda. Diperlihatkannya kotak-kotak berisi kurma dari Mesir. Harganya 700 Baht per kotak isi 10 kg. Ahmad mengambil 10 kg untuk kedua istrinya.
Kata Ahmad kepada istri-istrinya, “… Pokoknya kita usaha agar setiap hari ada yang bisa kita berikan untuk ta’jil bagi orang-orang yang berbuka di masjid. Athikah 100 gram setiap hari, Zhahirah 100 gram setiap hari. Selebihnya untuk tetangga dan untuk keperluan antum di rumah.”
Masih ada sekitar 15 hari lagi Ramadhan baru akan datang menjelang. Meskipun begitu, Ahmad sudah mulai kembali membaca keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan. Sememangnya dia ingat akan hal itu, akan tetapi dengan membaca ulang hatinya menjadi lebih mantap untuk beramal dan lebih bergairah lagi untuk menyambut bulan yang penuh berkah.
Subhanallah
Kata Ahmad kepada istri-istrinya, “… Pokoknya kita usaha agar setiap hari ada yang bisa kita berikan untuk ta’jil bagi orang-orang yang berbuka di masjid. Athikah 100 gram setiap hari, Zhahirah 100 gram setiap hari. Selebihnya untuk tetangga dan untuk keperluan antum di rumah.”
Masih ada sekitar 15 hari lagi Ramadhan baru akan datang menjelang. Meskipun begitu, Ahmad sudah mulai kembali membaca keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan. Sememangnya dia ingat akan hal itu, akan tetapi dengan membaca ulang hatinya menjadi lebih mantap untuk beramal dan lebih bergairah lagi untuk menyambut bulan yang penuh berkah.
Subhanallah
27/08/2007
Satu Keluarga di Ujung Jalan
Sebuah keluarga tinggal di sebuah rumah kecil di sebelah kanan dari sebuah ujung jalan yang buntu. Atap rumahnya terlalu rendah bahkan bagi orang yang tidak cukup tinggi. Siapa saja yang memasukinya dengan tidak menunduk, kepalanya akan segera terbentur oleh papan atas penyangga atap.
Tidak secara sengaja Huda mengunjungi keluarga ini. Seorang kawan Huda yang juga kawan penghuni rumah tersebut mengajak dia untuk menjenguk anak-anaknya. Katanya, sudah beberapa hari temannya itu sibuk mencari keperluan hidup di pasar bersama istrinya dari pagi hingga petang.
Rumah gubuk itu ternyata diisi oleh anak-anak kecil. Paling tidak ada 7 orang anak yang nampak tidak peduli dengan keadaannya, kotor dan lusuh. Yang paling besar nampak menggendong anak yang paling kecil.
Sejak kunjungan itu, diam-diam Huda berniat untuk mengunjunginya lagi. Fikirnya, semoga saja kelak dia bisa bertemu dengan orangtua dari anak-anak itu. Sememangnya dia berniat mengetahui lebih lanjut bagaimana Allah SWT memelihara dan menjamin rezeki keluarga itu.
Subhanallah.
Tidak secara sengaja Huda mengunjungi keluarga ini. Seorang kawan Huda yang juga kawan penghuni rumah tersebut mengajak dia untuk menjenguk anak-anaknya. Katanya, sudah beberapa hari temannya itu sibuk mencari keperluan hidup di pasar bersama istrinya dari pagi hingga petang.
Rumah gubuk itu ternyata diisi oleh anak-anak kecil. Paling tidak ada 7 orang anak yang nampak tidak peduli dengan keadaannya, kotor dan lusuh. Yang paling besar nampak menggendong anak yang paling kecil.
Sejak kunjungan itu, diam-diam Huda berniat untuk mengunjunginya lagi. Fikirnya, semoga saja kelak dia bisa bertemu dengan orangtua dari anak-anak itu. Sememangnya dia berniat mengetahui lebih lanjut bagaimana Allah SWT memelihara dan menjamin rezeki keluarga itu.
Subhanallah.
Seperti Ikan di Laut
Segera setelah mengetahui hukum fikihnya, Huda menghidupkan sunnah Rasulullah SAW di wajahnya. Kumis dicukurnya habis sementara janggut yang bisa dihitung dengan jari dibiarkannya tumbuh. Awalnya merasa canggung saat berada di keramaian, tapi sifat istiqomahnya sedikit demi sedikit melunturkan perasan tadi.
Keindahan memang sangat bergantung kepada cara pandang dan kebiasaannya. Bagi orang yang biasa melihat lelaki kelimis (yang kumis dan janggutnya dicukur bersih), maka orang yang memelihara janggut akan nampak kotor dan tidak rapih. Sebaliknya, bagi orang yang biasa melihat lelaki yang memelihara sunnah ini, maka lelaki kelimis akan nampak seperti banci; lelaki tidak, perempuan pun tidak.
Tinggal di keramaian Pattaya tidak serta merta menjadikan Huda sama seperti penduduk-penduduk kota ini yang serba permisif. Huda barangkali seperti ikan di laut. Meskipun air laut asin, ikan tidak serta merta menjadi asin hanya karena tinggal berterusan di dalamnya. Dia juga tidak terbawa arus.
Subhanallah
Keindahan memang sangat bergantung kepada cara pandang dan kebiasaannya. Bagi orang yang biasa melihat lelaki kelimis (yang kumis dan janggutnya dicukur bersih), maka orang yang memelihara janggut akan nampak kotor dan tidak rapih. Sebaliknya, bagi orang yang biasa melihat lelaki yang memelihara sunnah ini, maka lelaki kelimis akan nampak seperti banci; lelaki tidak, perempuan pun tidak.
Tinggal di keramaian Pattaya tidak serta merta menjadikan Huda sama seperti penduduk-penduduk kota ini yang serba permisif. Huda barangkali seperti ikan di laut. Meskipun air laut asin, ikan tidak serta merta menjadi asin hanya karena tinggal berterusan di dalamnya. Dia juga tidak terbawa arus.
Subhanallah
24/08/2007
Jaga Dunia Jaga Akhirat
Musa merasa sangat senang hari ini. Dia pulang ke rumah dengan wajah yang cerah. Sinar pada raut wajahnya mungkin lebih mengesankan daripada benderangnya langit saat tidak berawan. Hal itu nampak jelas dari air muka istrinya, segera setelah dia melihat wajah suaminya.
Hatinya bersyukur. Semoga Allah SWT membalas Huda – tetangga yang baik itu – dengan kemuliaan di dunia dan di akhirat. Di rumah Huda, Musa mendapat nasihat yang sangat berharga; Sebuah kalimat sederhana yang penuh makna. "Raksa dunia kong khun samrap raksa akhirat kong khun." Jaga duniamu untuk jaga akhiratmu.
Begitulah hidup. Satu kalimat yang bagi orang lain mungkin tidak memiliki makna yang berarti, boleh jadi malah menjadi kalimat sakti bagi orang lainnya. Suatu kalimat yang baginya merupakan panduan untuk membangun satu episode kehidupan dari puing-puingnya yang tercerai dan terserak.
Subhanallah
Hatinya bersyukur. Semoga Allah SWT membalas Huda – tetangga yang baik itu – dengan kemuliaan di dunia dan di akhirat. Di rumah Huda, Musa mendapat nasihat yang sangat berharga; Sebuah kalimat sederhana yang penuh makna. "Raksa dunia kong khun samrap raksa akhirat kong khun." Jaga duniamu untuk jaga akhiratmu.
Begitulah hidup. Satu kalimat yang bagi orang lain mungkin tidak memiliki makna yang berarti, boleh jadi malah menjadi kalimat sakti bagi orang lainnya. Suatu kalimat yang baginya merupakan panduan untuk membangun satu episode kehidupan dari puing-puingnya yang tercerai dan terserak.
Subhanallah
Sebutannya adalah Pi Huda
Namanya Hudallinnas bin Abdullah, tapi orang-orang biasa memanggilnya Pi Huda. Pi sendiri artinya abang; Abang Huda. Usianya setengah baya. Bentuk wajahnya seperti kebanyakan muka orang Asia Tenggara, dengan sedikit tambahan warna campuran antara China dan Melayu. Wajahnya mengesankan seringnya dibasahi air wudhu.
Huda hanyalah satu orang muslim dari bermilyar muslim lainnya yang tidak terkenal. Dia bahkan mungkin tidak dikenal di Thailand, selain oleh tetangga dan orang-orang yang pernah bergaul dengannya. Namanya tidak diingat dan tidak dicatat kecuali pada sedikit dokumen seperti pada akte kelahiran dan surat-surat lainnya yang disimpan di kantor pemerintah atau di kantor desa.
Tidak ada yang istimewa pada dirinya, kedudukannya, pendidikannya dan pada apa-apa yang dimilikinya, selain bahwa dia selalu berusaha memegang keyakinan dan agama dengan kuat.
Subhanallah
Huda hanyalah satu orang muslim dari bermilyar muslim lainnya yang tidak terkenal. Dia bahkan mungkin tidak dikenal di Thailand, selain oleh tetangga dan orang-orang yang pernah bergaul dengannya. Namanya tidak diingat dan tidak dicatat kecuali pada sedikit dokumen seperti pada akte kelahiran dan surat-surat lainnya yang disimpan di kantor pemerintah atau di kantor desa.
Tidak ada yang istimewa pada dirinya, kedudukannya, pendidikannya dan pada apa-apa yang dimilikinya, selain bahwa dia selalu berusaha memegang keyakinan dan agama dengan kuat.
Subhanallah
Pi Huda - Sekapur Sirih
Bismillahir rahmanir rahiem
Ini adalah cerita fiksi belaka. Dan meskipun sebagian ide dari sekuel-sekuel narasi yang akan dituturkan ini diambil dari keseharian orang-orang yang ada di sekitar penulis, namun nama-nama yang dimunculkan adalah nama-nama fiktif.
Tulisan-tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai cerita bohong dan sia-sia, tetapi lebih kepada usaha penulis untuk mengambil, mengikat, mencatat dan mengabadikan kesan-kesan dan pesan-pesan dari kejadian-kejadian dan inspirasi-inspirasi yang muncul berkelebat di saat-saat tertentu.
Jika kelak ada sesuatu yang baik dari tulisan-tulisan ini yang menggugah, sehingga mampu menggerakkan pembaca untuk berbuat baik atau melakukan suatu kebajikan tertentu, maka pahalanya didedikasikan kepada semua orang yang berbuat baik kepada penulis, baik pada masa yang lalu, pada masa kini, maupun pada masa yang akan datang.
Sebaliknya, sekiranya tulisan-tulisan ini jelek, tiada makna, dan tiada pula nilai kebaikannya, semoga Allah SWT berkenan membimbing penulis untuk memperbaiki dirinya lagi dan lagi hingga menjadi salah seorang dari mereka yang banyak manfaatnya bagi kebanyakan manusia sampai tiada lagi.
Subhanallah
Ini adalah cerita fiksi belaka. Dan meskipun sebagian ide dari sekuel-sekuel narasi yang akan dituturkan ini diambil dari keseharian orang-orang yang ada di sekitar penulis, namun nama-nama yang dimunculkan adalah nama-nama fiktif.
Tulisan-tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai cerita bohong dan sia-sia, tetapi lebih kepada usaha penulis untuk mengambil, mengikat, mencatat dan mengabadikan kesan-kesan dan pesan-pesan dari kejadian-kejadian dan inspirasi-inspirasi yang muncul berkelebat di saat-saat tertentu.
Jika kelak ada sesuatu yang baik dari tulisan-tulisan ini yang menggugah, sehingga mampu menggerakkan pembaca untuk berbuat baik atau melakukan suatu kebajikan tertentu, maka pahalanya didedikasikan kepada semua orang yang berbuat baik kepada penulis, baik pada masa yang lalu, pada masa kini, maupun pada masa yang akan datang.
Sebaliknya, sekiranya tulisan-tulisan ini jelek, tiada makna, dan tiada pula nilai kebaikannya, semoga Allah SWT berkenan membimbing penulis untuk memperbaiki dirinya lagi dan lagi hingga menjadi salah seorang dari mereka yang banyak manfaatnya bagi kebanyakan manusia sampai tiada lagi.
Subhanallah
Langganan:
Postingan (Atom)
Doa Jodoh
Alhamdulillah. Nabi Musa (as) berdoa, "Robbi innii limaa anzalta ilayya min khairin faqier." Artinya: Ya Tuhanku, sesungguhny...
-
Masya Allah. Bila kita buka peta dunia, lalu kita tandai setiap negara yang memiliki populasi muslim sebesar 50% ke atas dengan warna hi...
-
Segera setelah mengetahui hukum fikihnya, Huda menghidupkan sunnah Rasulullah SAW di wajahnya. Kumis dicukurnya habis sementara janggut yang...