26/09/2008

Sepakat

Masya Allah. Bahagian terbesar dari ummat ini adalah mereka yang tidak beruntung dengan perolehan fasilitas dan pengajaran. Mereka miskin dan tidak mempunyai cukup pengetahuan meski untuk perkara2 yang mendasar. Keadaan kita tak bedanya sebuah pyramid raksasa. Sedemikan rupa keadaannya, sehingga orang2 yang dibawah adalah orang2 yang tidak mengenal Allah, Tuhan mereka dan Tuhan kita. Dan mereka tersebar di seluruh penjuru dunia.

Bagian terbesar dari ummat ini ada di kota2 dan ada lebih banyak lagi di desa2 dan di tempat2 yang sulit dijangkau oleh orang2 ‘modern’. Bagian terbesar ummat ini bahkan ada di sekitar kita. Mereka tidak menyentuh media massa dan mereka pun tidak mempublikasikannya kecuali sedikit dan menjadi tidak berarti bila dibandingkan dengan jumlah mereka. Karena itu mereka terlupakan.

Bila kita melupakan mereka, maka Allah tidak melupakan mereka meskipun sekejap. Bila kita tidak mempedulikan mereka, maka Allah mempedulikan mereka setiap saat. Bila kita merasa berat untuk berkonsentrasi pada satu perkara, maka Allah tidak merasa berat untuk mengurus semua urusan-Nya. Bila kita susah hati dengan keadaan yang diciptakan-Nya, maka Allah tidak sedikitpun terkesan dengannya. Allah maha memiliki kekuatan sedangkan manusia lemah dan tidak berdaya.

Tidak ada larangan sedikitpun bagi kita untuk membela saudara2 kita yang teraniaya. Bahkan Allah akan membela mereka yang membela saudara2-nya. Allah akan menolong hamba-Nya selama sang hamba menolong saudaranya. Bila kita sibuk membantu saudara2 kita (karena Allah) padahal kita juga dalam keadaan yang layak untuk dibantu, maka hal ini pasti akan menyenangkan-Nya hingga Dia sendiri membanggakan kita di hadapan majelis malaikat. Bila sudah demikian, maka malaikat2 akan menyesal, kenapa dahulu mereka mengajukan protes ketika Allah berencana menciptakan manusia.

Sebenarnya tidak ada masalah buat kita bila kita tidak pernah rela kepada setan dan konco2-nya. Ketika kita sibuk membantu seorang saudara, kita menyangka bahwa hal itu akan menyenangkan Allah, lalu Allah membenarkan sangkaannya. Ketika kita dalam proses membantu saudara yang lain, kita ingin agar semua orang membantu kita juga, maka keinginan yang seperti itu adalah manusiawi dan Allah akan menyetujuinya. Akan tetapi bila kita memaksa orang lain untuk berfikir, berbuat dan berkorban seperti apa yang kita lakukan, maka setan akan memperoleh kedudukannya dalam perkara ini.

Beruntung bila kita termasuk mereka yang cerdas baik emosi maupun akalnya. Secara emosi kita akan sabar untuk menuntaskan kerja kita secara ber-tahap2 sambil menantikan datangnya pertolongan Allah. Dengan akal yang cerdas kita selalu akan mempertimbangkan bahwa perkara apa saja yang kita lakukan adalah demi kebaikan kita sendiri. Tidak seorangpun akan memperoleh ganjaran dari amal kebajikan kita, sama seperti halnya tidak akan ada seoranpun yang akan menanggung dosa karena kesalahan kita.

Kita sepakat bahwa jihad adalah kerja besar yang tidak seorangpun gugur di dalamnya (karena Allah) kecuali pasti akan diberi-Nya surga. Kita sepakat bahwa kerja kita adalah ‘ila kalimatillah’. Kita juga sepakat bahwa kita semua laksana sebuah bangunan. Yang menjadi fondasi ridho dengan kedudukannya untuk menanggug beban berterusan agar bangunan tidak runtuh. Yang menjadi dinding ridho dengan kedudukannya sebagai pelindung bagi apa saja yang ada di dalamnya. Yang menjadi atap ridho dengan kedudukannya menampik hujan atau apa saja yang jatuh ke atasnya. Fondasi tidak menganggap kedudukannya lebih baik dari yang lain, karena itu dia tidak menyalahkan yang lain. Dinding tidak menganggap kedudukannya lebih baik dari yang lain, karena itu dia tidak menyalahkan yang lain. Atap tidak menganggap kedudukannya lebih baik dari yang lain, karena itu dia tidak menyalahkan yang lain.

Subhanallah. 
* 

12/09/2008

Memuji Allah

Alhamdulillah. Kata2 yang paling indah dalam hidup ini adalah kata2 pujian kepada Allah. Dan kata2 yang paling tinggi nilainya adalah kata2 yang ditujukan untuk menyenangkan Allah. Sedangkan kata2 yang paling berkesan dan memiliki pengaruh ghaib adalah kata2 yang Dia sendiri telah memilahnya agar kita mengucapkan dan meng-ulang2-nya se-banyak2-nya. Dia mengetahui secara pasti milik-Nya, sedangkan kita tidak mengetahuinya, kecuali sebatas pada apa yang diberikan-Nya saja.

Pujian bagi Allah adalah sebanyak bilangan yang diketahui-Nya sendiri. Pujian2 milik-Nya pasti lebih banyak daripada jumlah butir2 pasir di gurun2, di pantai2, bahkan lebih banyak daripada jumlah semua pasir yang ada di bumi. Pujian milik-Nya lebih banyak daripada jumlah titik2 hujan dan butir2 embun dimana saja di dunia ini. Pujian milik-Nya bahkan lebih banyak daripada jumlah bintang2 di langit dalam jagad kita ataupun di jagad lainnya.

Bila seseorang memuji Allah dengan pujian yang banyak, berterusan dan dengan segenap hatinya, maka pujian yang demikian tetap tidak akan dapat melampaui pujian2 yang dilakukan oleh malaikat2 yang tidak pernah diganggu oleh lelahnya fisik dan lelapnya mata. Bila ada pembicara hebat yang dapat kita hadirkan di dunia ini, maka pembicaraannya pun pasti tidak akan mampu meliputi segala pujian milik-Nya. Dan bila saja ada alat penghitung canggih yang dapat kita buat di dunia ini, tetap saja dia tidak akan dapat merangkum segala pujian milik-Nya.

Dari kenyataan tersebut, kita memahami bahwa pujian kita pasti tidak akan menambah ketinggian-Nya dan kelalaian kita untuk memuji-Nya pasti tidak akan mengurangi derajat kesempurnaan-Nya. Dia tidak dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya orang2 yang memuji-Nya. Dia berdiri sendiri dan Dia tidak memerlukan apapun dari setiap ciptaan-Nya. Dia tidak memerlukan pujian dari manusia untuk mengukuhkan kesempurnaan-Nya.

Memuji Allah sama saja artinya dengan mengakui kehebatan-Nya. Memuji-Nya dengan segenap hati sanubari kita, niscaya akan menguntungkan kita. Waktu yang kita gunakan untuk memuji-Nya justru akan termasuk pada waktu2 dengan perolehan nilai yang paling besar. Lagi pula, gerak dan percakapan kita dalam memuji-Nya pasti akan tercatat dan dikelompokkan-Nya ke dalam golongan orang2 yang mengingat-Nya dengan baik.

Memuji Allah dengan ikhlas pasti akan menambah kecintaan kita kepada-Nya. Memuji Allah dengan cara yang disukai-Nya akan memposisikan kita ke dalam golongan mereka yang sadar kedudukannya terhadap Tuhannya. Memuji Allah dengan cara sebagaimana kita senang untuk mendapatkannya adalah cara lain untuk memperoleh kebaikan2 dari-Nya yang datangnya tidak akan kita duga.

Ketika kita merasa senang dengan suatu pujian yang tulus, yang demikian adalah suatu bentuk pengajaran bagaimana Allah mendidik kita untuk memuji-Nya. Ketika kita merasa bahagia dengan sebutan2 kebaikan yang dibisikkan seseorang hingga bisikan itu sampai kepada kita, perkara demikian juga merupakan pengajaran bagaimana Allah menyadarkan kita untuk memahami cara memuji-Nya. Ketika kita merasa bangga atas pembelaan seseorang, hal itu juga merupakan gambaran bagaimana Allah bangga dengan pembelaan kita, padahal Dia tidak berhajat sedikitpun atas pembelaan kita. Sungguh, segala puji adalah milik Allah, Tuhan semesta alam.

Subhanallah. 
* 

29/08/2008

3 hari di Chonburi

Subhanallah. Sejujurnya kita memang tidak tahu banyak tentang agama dan hikmah2 yang masih dirahasiakan Allah. Kita hanya mengetahui sebatas pada apa yang Dia berikan agar kita mengetahuinya. Bila sesorang mengaku bahwa dia mengetahui segala2-nya, pasti dia telah berkata dusta. Bila seseorang mengaku bahwa dia tahu lebih banyak daripada yang lain, tetap saja ada lebih banyak lagi yang belum diketahuinya. Maka, adalah sangat tidak layak buat seseorang diantara kita menjadi sombong, bahkan meski pada bidang yang paling dikuasainya. Bila Allah suka, maka hanya Dia saja yang berhak mengenakan busana kesombongan.

Barangkali hanya mereka yang pernah ‘camping’ yang dapat merasakan nikmatnya kebersamaan dalam kelompok yang terdiri dari beberapa orang yang tinggal di satu tempat untuk masa tertentu. Barangkali juga hanya mereka yang pernah ‘jatuh cinta’ yang dapat merasakan nikmatnya pengorbanan dan penderitaan atas cintanya. Dan barangkali hanya mereka yang punya sifat persahabatan sekaligus kerisauan atas ummat saja yang dapat menilai kepentingan ‘keluar 3 hari’ di jalan Allah sebagaimana yang kita lakukan.

Adalah satu kenyataan hari ini bahwa tidak setiap orang dapat keluar 3 hari, khusus untuk ishlah diri. Tidak setiap orang beruntung untuk dapat melapangkan masanya sekedar 3 hari. Bahkan, tidak setiap orang yang kaya waktu (yakni mereka yang tidak memiliki pekerjaan tertentu) dapat keluar di jalan Allah. Memang, hanya orang2 yang dipilih-Nya saja yang memiliki kemapuan untuk keluar di jalan-Nya. Tidak peduli apakah dia kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, sehat atau sakit, ‘alim atau awam. Bila Allah tidak memilihnya untuk maksud agama-Nya, maka dia akan memiliki beribu alasan untuk menafikannya.

Barangkali saya termasuk mereka yang beruntung ketika dalam minggu yang lalu dapat bergabung dengan rombongan 3 hari di Chonburi, Thailand. Bila saja saya cari kesalahan2 mereka, tentu akan saya dapati di sana berbagai aib dan ber-macam2 keburukan. Untung saja Allah swt selalu mengingatkan, bahwa Dia akan menyempurnakan iman kita bila kita dapat mencintai saudara2 kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Dengan niat untuk memperbaiki diri sendiri (dari segala kerusakan hati) sekaligus belajar mengamalkan agama, maka saya mendapatkan manfaat iman di sana.

Muhammad Saleh, 37 tahun, telah 5 tahun memeluk Islam. Barangkali dia lebih beruntung karena meski belum pas bacaannya dia sudah hafal Alfatihah. Bandingkan dengan orang2 (Islam yang) lain yang kadang2 sudah tua tapi tak tahu sedikitpun bacaan2 di dalam sholat. Bila saja kita mau memberi sedikit masa kita seumpama untuk mendatangi mereka yang ‘tertinggal’, atau untuk mengetahui apa saja yang sudah dipahami saudara2 kita atau perkara2 lain yang berhubungan dengan agama ini, maka kita akan menjadi risau dengan keadaan mereka. Kita akan dapati bahwa kualitas kita tidak sebaik kuantitas kita.

Bila saja kita mau memberikan masa kita untuk keperluan ini, maka se-olah2 kita memaklumkan kepada yang lain bahwa kelebihan waktu yang kita miliki adalah milik mereka, dan kita tahu bahwa mereka sangat memerlukannya. Demi kepentingan mereka, kita tidak punya cukup masa untuk berdiskusi, seminar ataupun debat2 yang berkepanjangan hanya untuk mengetahui siapa yang lebih hebat diantara kita. Waktu yang Allah amanahkan agar kita membaginya kepada saudara2 kita, suka atau tidak, tetap harus kita tunaikan. Bila tidak, maka setiap dari kita pun tahu apa nama bagi orang yang mengambil hak orang lain bagi kepentingannya sendiri. 

***

Abdurrazak berasal dari Bangladesh, 9 tahun lamanya dia menuntut ilmu agama di sebuah pondok di Myanmar. Sudah sekitar 30 tahun dia tinggal di rantau hingga akhirnya menetap di Pattaya, Thailand. Dari pengakuannya, sering ada kerinduan untuk dapat kembali ke kampung halamannya, dapat berjumpa dengan orang tua dan saudara2-nya. Kegiatannya dalam mencari uang dan mendapatkan kesenangan darinya, telah mengubur keinginannya untuk menikah hingga umurnya berangsur tua. Meski demikian, dia belum juga dapat mengumpulkan bekal untuk kembali.

Di atas adalah sekedar gambaran seorang ‘alim yang ‘tersesat’ ke Pattaya. Minggu yang lalu, kita duduk bersamanya. Dia memberikan masanya selama 3 hari, barangkali agar kita dapat belajar dari pengalamannya. Dia bangga dengan latar belakang pondoknya, tetapi ‘menyesal’ dengan kehidupannya. Ilmu yang didapatnya dari pondok, se-olah2 tidak berguna untuk menunjang keinginan dan kehidupannya pada banyak tahun yang telah lalu. Belakangan dia merasa beruntung karena Allah memberinya kekuatan untuk mendekati-Nya.

Kita akui bersama, bahwa dakwah adalah tulang punggung agama. Hanya dengan dakwah, agama akan dapat tegak berdiri. Dengan dakwah, orang2 muslim akan bangga dengan ajarannya. Dengan dakwah, orang2 muslim akan mengamalkan agamanya. Dengan dakwah, akan lahir ahli2 agama bahkan turun dari keluarga2 yang bejat. Dengan dakwah, orang2 kafirpun akan memeluk Islam dengan suka cita.

Sesungguhnya dakwah memiliki kekuatan yang besar. Dengan dakwah, bumi telah tenggelam pada masa nabi Nuh as. Dengan dakwah, api yang membakar kehilangan kemampuannya terhadap nabi Ibrahim as. Dengan dakwah, laut telah dikuak untuk menjadi jalan bagi nabi Musa as dan rombongannya. Dengan dakwah, orang2 mati dihidupkan bagi nabi Isa as. Dengan dakwah, bulan dibelah dua oleh nabi Muhammad saw dengan ijin-Allah.

Akan tetapi sebaliknya, tanpa dakwah maka agama akan lumpuh. Meski cantik dan indah, tetap saja agama tak akan dapat tegak berdiri. Tanpa dakwah, orang2 Islam akan keluar dari agamanya. Tanpa dakwah, agama akan sulit diamalkan. Tanpa dakwah, akan lahir penjahat2 bahkan turun dari keluarga orang2 ‘alim. Tanpa dakwah, orang2 kafir tetap tidak akan suka kepada Islam.

Maka keluarnya kita dari rumah dan kampung kita ke jalan Allah adalah juga dengan niat untuk belajar dakwah. Dakwah yang sempurna adalah ajakan kepada Allah dan perintah-Nya sebagaimana kandungan adzan. Dakwah akan mengingatkan kita kepada kebesaran Allah sekaligus mengajak kita kepada sholat dan menawarkan kesuksesan dunia-akhirat. Dakwah yang sempurna dimulai diantara kita. Dan dakwah yang sempurna dimulai dari komunitas Islam yang paling dekat.

Kita telah melapangkan masa kita, maka dengan cara ini kita memiliki kesempatan untuk mendatangi setiap muslim. Kita berjalan melalui lorong2 dan menyusuri jalan mengikuti kemana penunjuk jalan pergi. Kita berjumpa dengan mereka di rumah2 mereka, di toko2 mereka dan di pasar2. Kita mengingatkan bahwa kita bersaudara karena kalimah Laa ilaha illallah Muhammadur rasulullah. Kita mengajak mereka ke masjid dan menawarkan kebaikan yang banyak.

Sungguh, kita beruntung dengan kerja dakwah. Kerja yang sangat2 mulia yang tidak Allah berikan (sebelum kita) kecuali kepada para nabi dan rasul-Nya saja. Jangan khawatir, kerja kita se-olah2 seperti memasukkan segelas air ke dalam kolam. Meski nampaknya tidak ada perubahan atas kadarnya, kita yakin bahwa air kolam sudah bertambah satu gelas. Dan bila setiap dari kita menuangkan air dengan cara yang sama, pasti perubahan itu akan nampak secara signifikan.

Subhanallah. 
* 

15/08/2008

Tantangan

Masya Allah. Bila kita buka peta dunia, lalu kita tandai setiap negara yang memiliki populasi muslim sebesar 50% ke atas dengan warna hijau, 40%-50% dengan warna hijau muda, 30%-40% dengan warna hijau pucat, 20%-30% dengan warna kuning pucat, 10%-20% dengan warna kuning tua dan sisanya yakni 10% atau kurang dengan warna coklat, maka kita akan tahu secara jelas penyebaran ummat Islam secara universal. Hijau akan terpusat dari Afrika sampai Asia Tengah di tambah Asia Tenggara, lalu secara gradasi mengarah kepada belahan dunia yang lain.

Bila kita konsisten (misalnya) dengan pembagian atau pengelompokan seperti itu, lalu kita data ulang setiap (misalnya) 5 tahun sekali, maka kita akan takjub dengan perkembangannya. Hari ini sebagian manusia yang beruntung sedang menyaksikan ber-bondong2-nya manusia kepada Islam. Allahu akbar. Kita jadi harus sering merevisi peta dunia yang kita warnai tadi.

Bila kita berjalan di belahan bumi barat sana, tentu dengan maksud agama, Allah sendiri akan bukakan pintu2 dan jendela2 bagi kita sehingga kita dapat melihat bahwa apa yang kita dengar selama ini memang kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Kita mengakui kelebihan Barat akan tetapi mereka sendiri mendapatkan bahwa Islam adalah agama yang hak, agama yang benar.

Awalnya adalah karena mereka ‘penasaran’ dengan mass-media yang tidak 'fair'. Mereka menjadi sadar bahwa berita2 dusta tentang Islam telah dikemas sedemikian rupa sehingga menghalangi mereka dari kebenaran sejati. Ketidakpuasan mereka akan mass-media, menjadikan mereka mencari atau menanti datangnya Islam dari sumbernya. Maka beruntunglah orang2 yang datang kepada mereka, lalu Allah menjadikannya sebagai asbab hidayah bagi mereka. Dan bila mereka datang kepada Islam, ini adalah urusan dan tanggung jawab Allah yang maha berkehendak.

Bila Allah memutuskan sesuatu, pasti Dia akan mewujudkannya. Tidak ada seorangpun yang akan mampu menolak keputusan-Nya. Sungguh, tidak seorangpun yang dapat melakukannya, bahkan meskipun seluruh jin dan manusia membantunya dengan segenap kekuatan mereka. Barangkali kisah nabi Musa as dapat menggambarkan secara jelas bagaimana kekuasaan dan keputusan Allah tak tertandingi. Allah sendiri menunjukkan bahwa meski Fir’aun (la) telah buat keputusan (yang tidak dapat dibantah oleh seluruh manusia saat itu) untuk membunuh setiap bayi lelaki, tetapi dia tidak berdaya manakala Allah sendiri menghadirkan bayi Musa as di hadapannya.

Selanjutnya, bila kita berjalan di belahan bumi sebelah timur, juga dengan maksud agama, maka kita akan mendapatkan bahwa banyak orang yang terbangunkan dari tidur dan mereka kembali kepada Islam. Beberapa orang dari Kamboja telah berkumpul di Bangladeh pada kesempatan yang lalu. Mereka adalah orang2 yang datuk-moyangnya Islam. Dengan kerja dakwah, mereka menyadari kekeliruan sebelumnya, lalu mereka bertobat kepada Allah, Tuhan mereka. Se-akan2 mereka baru saja masuk Islam. 

Pertanyaannya adalah, adakah kita punya andil dalam hal ini? Seruan Allah telah sampai kepada kita. Diseru-Nya kita agar berjalan di atas muka bumi hingga kita dapat lebih mengenal-Nya. Ditantang-Nya kita agar dapat menembus seluruh alam, melampaui bintang2 atau melintasi jagad raya. Semua tawaran-Nya adalah agar kita dapat memahami keagungan dan kebesaran-Nya. Dan nyatanya seruan ini datang ber-ulang2. Lalu, kenapa kita merasa puas dengan ruang kantor kita yang sempit? Atau kita cukup puas menengok keluasan dunia dan jagat raya lewat tv atau internet?

Allah melihat hati kita. Dia tidak saja memperhatikan kita dalam bilangan menit atau detik, tetapi lebih dari itu, Dia mengontrol dan mengawasi kita secara berterusan dan setiap saat. Dia mengetahui niat kita dan Dia akan membantu siapa saja yang berniat untuk keluar di jalan-Nya. Untuk itu, maka kita mesti buat keputusan bahwa “Ini adalah kerja saya. Saya berniat untuk keluar di jalan-Nya.” Keluar lagi dan lagi hingga Dia buat keputusan atas hidayah.

Subhanallah. 
* 

01/08/2008

Keadaan Kita

Alhamdulillah. Suatu hari saya berkesempatan untuk berkhidmat kepada rombongan dari Nigeria. Ini satu kesempatan yang mahal. Dengannya, kita menjadi tahu bagaimana Allah yang maha agung menggerakkan dan memperjalankan hamba2 yang dicintai-Nya kemana saja, di permukaan bumi, dimana tersedia rejeki bagi mereka. Mata kita menjadi terbuka dan dapat melihat bahwa bumi ini luas dan menyediakan keanekaragaman yang sengaja Dia ciptakan untuk kita. Kita juga akan segera memahami bahwa Allah memberikan semua itu dengan cara yang mudah bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Saudara2 kita yang berkulit hitam tersebut akan berangkat, manakala serombongan orang2 miskin bergegas mendekati mereka. Sebagian dari orang2 yang miskin tersebut adalah anak2. Mereka mulai meminta, mengemis dan menyatakan kesusahan2 mereka. Mereka beri tanda sedemikian rupa sehingga siapapun akan tahu maksudnya bahwa mereka memerlukan makanan. Mereka meng-hiba2 sebagaimana anak2 manja yang meminta kepada orang tuanya.

Permintaan yang berterusan dengan nada yang memelas lambat laun pasti akan menyentuh hati mereka yang lembut. Dan ketika hati mereka tersentuh, seorang dari mereka mengambil sejumput uang (yang terdiri dari beberapa lembaran) lalu diserahkannya kepada orang tempatan agar dapat dibaginya (secara adil) kepada para pengemis tersebut. Lalu merekapun pergi.

Masalah timbul ketika uang tersebut mulai dibagikan. Nilai tiap lembaran cukup besar dan mesti ditukar dengan recehan agar mereka semua dapat bagian. Sebagian anak2 menjadi tidak sabar dan merebut uang kertas tersebut. Rupanya tangan2 mereka terlalu banyak untuk satu lembar uang kertas. Mereka berkelahi. Mereka menjadi tidak peduli dengan lawan mereka. Diantara mereka ada anak perempuan yang juga dapat bagian dari sobekan uang tersebut. Mereka saling memukul, menjambak dan berbagai tingkah perkelahian terjadi di depan mata. Sebagian orang bahkan membiarkan hal ini berlangsung. Untunglah, meski agak lambat, seorang yang sudah sepuh melerai mereka. Sulit memang, sampai akhirnya dia buat keputusan untuk menggebuk setiap anak lelaki.

Barangkali ini suatu pelajaran yang bagus buat kita semua. Manakala kita miskin atau manakala kita ‘terjajah’ lalu kita sama2 datang kepada Allah. Kepada-Nya kita berdoa, meminta dengan meng-hiba2 agar Dia memberi kekayaan kepada kita atau agar Dia memberikan ‘kekuasaan’ dan membebaskan kita dari ‘tirani’ yang membelenggu kita. Lalu, kira2 apa jadinya bila Dia berikan semua apa yang kita minta? Bukankah kita berkelahi satu sama lain, sama seperti yang terjadi diantara para pengemis tadi?

Tidak ada seorangpun yang perlu kita salahkan dalam hal ini, dan memang kita tidak layak melakukan hal itu. Kesalahan orang lain tidak dapat diperbaiki dengan cara menyalahkan orang tersebut. Bahkan kesalahan kita sendiri pun tidak dapat diperbaiki dengan sekedar membiarkan orang lain untuk menyalahkan kita. Menyalahkan pihak tertentu tidak akan menghasilkan kecuali hati yang semakin rapuh dan hati yang tidak akan tenang. Bahkan, melemparkan sumpah serapah kepada pihak lain akan lebih menggelorakan hati yang pada gilirannya akan menjadikan pemiliknya menderita berkepanjangan.

Sebenarnya sederhana saja. Masalah timbul karena kita belum memiliki iman-yakin yang sempurna sebagaimana yang Allah kehendaki. Bila saja setiap dari kita yakin akan khasanah Allah, maka kita akan tanggalkan sifat ingin memiliki ataupun sifat mengambil dari sesama kita. Bila saja setiap dari kita yakin akan khasanah Allah, maka kita akan selalu mengambil dari Allah dan berakhlak sebagaimana akhlak Allah yang selalu suka dan senang memberi. Adapun iman-yakin yang sempurna tidak akan datang kepada kita kecuali kita telah berusaha atasnya.

Subhanallah. 
* 

18/07/2008

Siapa Sedia?


Subhanallah. Bila kita merasa puas dengan apa yang sudah kita dapatkan berupa kedudukan, fasilitas dan keuangan, lalu kita menjadi terikat dengannya, maka saudara2 kita yang sering kita pandang hina (karena tidak setinggi kita), sebenarnya lebih baik daripada kita. Mereka mempunyai banyak waktu, sedangkan kita ‘tidak punya’ waktu. Malangnya, kita menolak untuk dikategorikan sebagai orang yang miskin.

Kebanyakan manusia selalu mengejar apa yang paling mahal harganya. Tahukah kita berapa besar nilai silaturahmi? Sejujurnya, kita tidak mengetahuinya, karena itu kita mengabaikannya. Malangnya, kita menolak dikatakan bodoh. Sudah nyata bahwa kita tidak tahu nilai silaturrahmi dan kitapun tidak melakukannya karena ‘tak ada waktu’, akan tetapi kita menolak untuk dikatakan orang miskin bodoh.

Kita mengetahui bahwa orang2 muslim dimana saja berada adalah saudara2 kita. Mereka adalah orang2 yang akan Allah tanyakan perihalnya ketika kita masuk kubur. Atas pertanyaan siapa saudara2-mu, maka amal silaturrahmilah yang akan menjawabnya. Maka beruntunglah mereka yang menjaga silaturrahmi dengan saudara2-nya, baik yang dikenal ataupun tidak, di negerinya atau di negeri2 lain. Bukti2 silaturrahmi senantiasa tercatat dan terpelihara (dengan cara yang karena kebodohan kita, kita belum mengetahuinya). Namun demikian, hanya silaturrahmi yang bersih dari maksud dunia dan yang tercatat atas dasar untuk menyenangkan Allah saja yang akan bernilai di sisi-Nya.

Kepada saudara2 kita yang sudah kita kenal, barangkali kita sering mengunjunginya. Lalu bagaimana dengan saudara2 kita yang jauh, yang tinggal di ujung2 dunia? Apakah mereka tidak layak untuk dikunjungi? Sebagai saudara kita, apakah hak mereka tidak layak untuk dipenuhi? Apabila kita tidak mendatangi mereka, lalu bagaimana pula kita boleh saling menasehati? Dan bagaimana pula kita boleh saling berkasih sayang? Bukankah pepatah orang tua mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang?

Di banyak kawasan, bahkan di negeri kita, banyak muslim yang belum lagi fasih mengucapkan Laa ilaaha illallah, bahkan sebagiannya sulit mengucapkan lafadz Allah. Bila mereka sulit mengatakan kalimah2 utama yang paling sering diucapkan oleh seorang muslim, kira2 bagaimanakah dengan kalimah2 yang lain? Bagaimana pula dengan bacaan2 sholat? Bagaimana pula halnya dengan tilawah Al-Qur’an?

Beberapa saudara2 muslim dari Philipina telah mengatakan kepada saya, bahwa mereka telah berjumpa dengan orang2 muslim di beberapa pulau di perairan Indonesia yang letaknya dekat dengan negerinya. Katanya, mereka mengaku muslim, bahkan ada yang memiliki kalung dengan tulisan Allah, tetapi mereka tidak dapat menyebut lafazd Allah.

Ini kenyataan. Lalu, siapa yang bersedia datang ke sana? Kualitas kita akan segera nampak dari jawaban2 kita. Kita mengelak dengan alasan bahwa kita bukan ‘jebolan’ pondok-pesantren. Kita menolaknya dengan cara menyerahkan tugas ini kepada para ulama. Kita berdalih bahwa kita terikat dengan pekerjaan. Kita katakan bahwa keluarga kita pun masih memerlukan bimbingan. Selanjutnya kita keluarkan dalil2 untuk membenarkan ‘keuzuran’ kita. Dan inilah potret kualitas kita.

Tidak ada paksaan dalam urusan ini. Mereka bebas untuk menentukan bentuk akhir hidup mereka sendiri: Apakah dapat mengucapkan kalimah2 Allah (sebagaimana dia sampaikan dalam masa hidupnya) atau tidak; Apakah kelak dikasihi oleh seluruh makhluk atau hanya ditangisi keluarganya.

Mereka juga bebas untuk menentukan bentuk kepemilikannya di akhirat: Apakah suka berdiam di tempat (semisal disiksa di neraka) atau bergerak terus (di surga yang luas tak terkira) lebih daripada sebagaimana dia melakukan silaturrahmi ke pelosok2 dunia selama hidupnya di dunia.

Subhanallah. 
*

04/07/2008

Ibunda Musa

Subhanallah. Tidak ada seorangpun yang dapat menceritakan sifat2 Allah karena dia pernah melihat-Nya. Tidak ada seorangpun yang dapat menceritakan bagaimana Dia karena pernah menjumpai-Nya. Tidak ada seorangpun yang dapat menceritakan dimana Allah karena pernah menemui-Nya. Sungguh, tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui bagaimana Dia, baik lahir maupun bathin, melainkan sebagaimana yang dikatakan oleh Allah yang maha agung itu sendiri. Demi keagungan dan kekuasaan-Nya, Dia menghendaki agar setiap dari kita mengetahui lalu yakin akan kudrat-Nya.

Diceritakan-Nya kembali kepada kita, kisah Ibunda Musa as agar kita menjadi yakin dengan kekuasaan-Nya. Kekuasaan Allah adalah hak, sedangkan kekuasaan selain-Nya adalah bathil. Allah berkuasa mutlak, sedangkan makhluk tidak berkuasa, kecuali pada batas2 yang telah ditentukan-Nya sendiri. Allah berkuasa, sedangkan selain-Nya ada dalam kekuasaan-Nya. Tidak ada kekuasaan apapun kecuali pasti ada dalam kontrol-Nya.

Ada masanya ketika kebathilan se-olah2 berkuasa penuh. Ada saat2 tertentu manakala yang bathil ada pada pihak yang ‘powerful’, super power, adidaya dan adikuasa. Akan tetapi semua kekuatan, semua kedigdayaan adalah milik Allah. Dia berbuat sekehendak-Nya sesuai dengan ilmu dan rencana-Nya.

Maka ketika Ibunda Musa tidak melihat lagi adanya harapan untuk menyelamatkan bayi lelakinya, dia datang kepada Allah. Dibujuk-rayunya Allah dengan rintihan dan tangisannya agar Dia menyelamatkan bayinya. Lalu Allah mendengar dan Dia bersedia mengabulkannya dengan syarat, ‘Taati Aku, kelak Aku akan kembalikan bayimu kepadamu’.

Perintahpun datang kepadanya dari Allah yang maha agung. ‘Bila musuhmu mendekat, maka masukkan bayimu ke dalam kotak (kayu).’ Keinginan sang ibu adalah menyelamatkannya, namun ternyata Allah memerintahkannya untuk memasukkannya dalam kotak yang barangkali justru akan segera mematikannya. Perintah Allah se-akan2 bertentangan dengan keinginannya. Namun demikian, dia taat.

Perintah selanjutnya, ‘Letakkan bayimu di atas sungai.’ Keinginan sang ibu adalah menyelamatkannya, namun ternyata Allah memerintahkannya untuk meletakkannya dalam sungai yang barangkali justru akan menghanyutkannya dan akan mematikannya. Perintah Allah se-akan2 bertentangan dengan keinginannya. Namun demikian, dia taat dan melaksanakannya.

Selanjutnya Allah memberitahu, ‘Aku akan hanyutkan dia kepada Fir’aun.’ Keinginan sang ibu adalah menyelamatkannya, namun ternyata Allah justru menyerahkannya kepada musuhnya. Dalam keadaan dan kondisi tersebut kitapun akan menyangka tidak ada lagi harapan bagi keselamtan sang bayi. Namun demikian, sang ibu pasrah atas keputusan-Nya. Dia ikhlas melepas makhluk lemah tersebut kepada musuh-Nya.

Ketika sang bayi dibawa ke hadapan musuhnya, adalah Fir’aun sadar dan yakin betul bahwa bayi tersebut adalah musuh yang di-cari2-Nya. Lalu, siapakah yang berkuasa penuh atas keselamatannya, Fir’aun yang mengaku ‘ana robbukumul’ala’ dan menetapkan agar setiap bayi lelaki dibunuh atau Allah robbul ‘alamin?

Untuk memenangkan pertarungan, Allah tidak memerlukan bantuan apapun. Banyak keadaan dimana Dia tidak menurunkan kekuatan2 fisik untuk menyelamatkannya. Sederhana saja, Allah hanya menjadikan sang bayi tersenyum manis, lalu luluhlah hati sang permaisuri. Kasih-sayang yang bersemi bahkan meruntuhkan keangkuhan Fir’aun. Dia menjadi tidak berdaya di depan istrinya. Allah berkuasa,sedangkan yang mengaku berkuasa justru tidak berdaya.

***

Allah, sekali-kali Dia tidak serupa dengan makhluk-Nya. Bahkan, tidak ada suatu apapun yang menyerupai-Nya. Dia maha besar, namun tidak ada sesuatu apapun yang besar untuk dapat membandingkan kebesaran-Nya. Dia maha lembut, namun tidak ada suatu apapun yang dapat dijadikan pembanding bagi kelembutan-Nya. Dia maha pemelihara, namun tidak ada suatu apapun yang dapat dijadikan pembanding bagi kehebatan pemeliharaan-Nya.

Kisah Ibunda Musa as adalah satu contoh agar kita yakin dengan janji2-Nya. Janji Allah adalah hak, sedangkan manusia adakalanya amanah, adakalanya dusta. Allah pasti akan menunaikan janji2-Nya, baik yang kita minta untuk segera ditunaikan-Nya ataupun yang kita mohon agar Dia dapat menyimpannya bagi kepentingan kita di akhirat kelak. Dia yang maha memenuhi janji apa yang dijanjikan-Nya, pasti mustahil berdusta. Lagipula tidak ada manfaat sedikitpun bagi-Nya untuk me-nunda2 pemberian-Nya bila sudah tiba masanya. Dia maha kaya lagi maha pemberi kekayaan. Dia memelihara segala sesuatu dan Dia mengendalikannya.

Dialah yang berjanji kepada Ibunda musa untuk mengembalikan bayinya bila dia taat kepada-Nya. Sebagaimana sifat-Nya, Dia pasti punya rencana yang terbaik untuk memenuhi janji-Nya. Suasana dan keadaan tidak akan pernah dapat menangguhkan pelaksanaan bagi rencana-Nya. Tidak juga pergantian musim dan zaman dapat mengubah rencana-Nya bila Dia berkehendak. Dialah Allah yang mengendalikan suasana2, keadaan2, musim dan zaman secara berterusan. Dan Dia tidak merasa lemah untuk menanganinya sendiri.

Ketakutan kita kepada Allah pasti akan membimbing kita untuk sungguh2 dalam mentaati-Nya, sedangkan ketakutan kepada selain Allah tidak akan mendatangkan manfaat, bahkan kita akan menjadi budak dari apa yang ditakutinya tersebut. Ketaatan kepada Allah adalah satu keindahan yang seharusnya menghiasi setiap manusia ciptaan-Nya.

Ketika Ibunda Musa as memutuskan untuk taat sepenuhnya kepada Allah, diapun melaksanakan apa saja yang diperintahkan Allah kepadanya, sampai akhirnya bayi miliknya ada di pangkuan istri Fir’aun. Ketaatan tidak sama dengan kebodohan. Derajat ketaatan kepada Allah justru menunjukkan kualitasnya sebagai manusia. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa dalam mentaati-Nya, seringkali ada ketakutan, kesulitan dan kesusahan, namun demikian di dalamnya Dia selipkan kelapangan dan kemudahan.

Masalah timbul manakala Musa kecil yang lucu dan yang sangat disayang oleh sang Ratu menangis karena lapar. Dalam hal ini Allah menunjukkan kepada kita betapa Dia berkuasa penuh dan mengatur se-gala2-nya. Dijadikan-Nya keadaan sedemikian rupa sehingga sang bayi menolak setiap ibu yang datang untuk menyusuinya. Sang bayi menangis, maka Ratu dan Raja pun menjadi susah hati. Demi kasih sayang mereka kepada sang bayi, maka Raja menjanjikan hadiah dan kedudukan yang baik di istananya bagi siapa saja yang dapat menenangkan sang bayi.

Allah kuasa, makhluk tak kuasa. Allah mengatur segala sesuatu, sedangkan makhluk ada di bawah aturannya. Dia berjanji dan pasti janji-Nya akan dipenuhinya dengan cara-Nya sendiri. Sungguh, tidak ada kesulitan sedikitpun bagi-Nya untuk menunaikan apa yang telah dijanjikan-Nya.

Lalu apa hasil ketaatan yang sempurna kepada Allah? Allah memenuhi janji-Nya untuk mengembalikan Musa kepada ibunya. Tidak hanya itu saja, selain bayi yang dikembalikan-Nya, dia juga memperoleh kedudukan yang baik di istana. Maka, bila seseorang taat kepada Allah, dia tidak saja mendapat apa yang Allah janjikan, tetapi barakah dan kebaikan lainnya akan mengikuti dia.

Subhanallah. 
* 

20/06/2008

Bani Israil

Masya Allah. Bila kita simak Al-Qur’an, di sana akan kita dapati banyak kisah tentang nabi Musa as dan kaumnya, yakni Bani Israil. Kisah2-nya lebih banyak dibandingkan dengan kisah nabi2 yang lain, lebih banyak dibandingkan dengan kisah nabi Isa as yang masa kenabiannya justru yang paling dekat dengan nabi Muhammad saw. Bahkan sedemikian banyaknya sehingga kita akan menemukannya hampir di setiap juzu’.

Allah yang maha mengetahui awal dan akhir dari setiap kejadian se-olah2 ingin mengatakan kepada kita bahwa kudrat-Nya selalu ada bersama amalan2 manusia. Dia hendak memberitahu kepada kita, bahwa ummat ini akan ditolong-Nya sebagaimana Dia telah menolong Bani Israil dahulu. Dia juga mengingatkan, bahwa ummat ini akan dapat bangkit hanya dengan kerja nubuwah atau kerja kenabian.

Pertanyaannya adalah siapakah Bani Israil? Israil adalah nama lain bagi nabi Yakub as. Maka, Bani Israil artinya adalah anak2 atau keturunan Yakub as. Sebagaimana kakek dan ayahnya, yakni Ibrahim as dan Ishaq as, Yakub as adalah nabi bagi agama yang hanif. Mereka adalah muslim sebagaimana pengakuan mereka sendiri, yakni bahwa mereka adalah orang2 yang berserah diri kepada Allah, Tuhan mereka. Kakek, ayah dan anak muslim, maka keturunan mereka dengan sendirinya adalah muslim. Muslim, karena orang tua mereka adalah muslim.

Pada saat mereka begitu dekat dengan generasi awal, mereka adalah orang2 yang taat kepada Allah. Moyang mereka, kakek mereka dan ayah mereka selalu mengingatkan bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Kepada-Nya sajalah Bani Israil menyembah dan berbakti. Maka ketaatan mereka tidak memberi dampak kecuali Allah meninggikan derajat mereka. Dengan dijadikannya Yusuf as sebagai kepercayaan Raja, maka Bani Israilpun dimuliakan di seluruh pelosok negeri.

Keadaan menjadi berubah, manakala jumlah mereka semakin banyak. Jumlah yang banyak tidak menjamin mereka untuk tetap dalam agama yang hanif. Mereka semakin cenderung kepada kebesaran2 selain Allah. Mereka lebih yakin akan ghairullah. Dalam keseharian mereka se-akan2 melupakan Allah. Keadaan ini pada gilirannya merendahkan derajat mereka sendiri kepada tahap yang hina. Mereka menjadi budak2 bagi kerajaan Mesir. 

Dalam keadaan hina, mereka meyadari kekeliruan mereka. Mereka kembali berdoa dan memohon kepada Allah agar mereka dibebaskan dari perbudakan tersebut. Lalu Allah mendengar dan menerima doa mereka. Allah berkehendak untuk membebaskan mereka dengan ‘menciptakan’ nabi di antara mereka. Lalu Allah mengutus nabi Musa as untuk mengingatkan kaumnya, yakni kepada siapa seharusnya mereka berbakti dan meminta pertolongan. Ini adalah satu pelajaran bahwa dakwah yang pertama dan utama adalah untuk kaum muslimin. Dakwah kepada Fir’aun justru dilakukan di belakang hari.

Hari ini, ummat Islam tidak ubahnya seperti Bani Israil dahulu. Ummat ini dilahirkan sebagai muslim dan banyak jumlahnya. Kelalaian ummat ini atas kewajiban2 yang harus ditunaikannya, telah menyebabkan mereka jatuh sampai pada taraf yang hina. Memang, ummat ini tidak menjadi budak secara fisik sebagaimana Bani Israil, tetapi secara mentalitas ummat ini adalah budak. Lalu, apa sebenarnya yang jadi kehendak Allah atas ummat ini, sedangkan Dia telah menetapkan bahwa tidak akan ada nabi lagi sesudah Rasulullah saw?

Dia berkehendak untuk membebaskan ummat ini dari perbudakan. Tidak dibebaskan-Nya kecuali dengan membangkitkan usaha kenabian di kalangan ummat ini. Maka berbahagialah siapa saja yang dipilih Allah untuk buat kerja ini, karena Dia sudah berjanji bahwa Dia sendiri yang akan meninggikan derajat pekerja2-Nya setinggi kedudukan nabi2 dari kalangan Bani Israil.

Subhanallah. 
* 

06/06/2008

Ahli

Alhamdulillah. Ahli gambar adalah dia yang pakar (teori dan praktek) dalam bidang gambar dan semua yang berkaitan dengannya. Ahli mesin adalah dia yang pakar (teori dan praktek) dalam bidang permesinan dan semua yang berkaitan dengannya. Ahli komputer adalah dia yang pakar (teori dan praktek) dalam bidang komputer dan semua yang berkaitan dengannya. Ahli matematika adalah dia yang pakar (teori dan praktek) dalam bidang matematika dan semua yang berkaitan dengannya. Dengan penalaran yang sama kita akan segera tahu siapakah orang2 yang disebut ahli sunnah wal jamaah.

Harus kita akui, meski kita lahir dari emak-bapak Islam, meski rumah kita menyimpan 'barang2 Islami', meski lingkungan kita padat dengan warga muslim, meski negeri kita mayoritas muslim, kita belum lagi pakar dalam sunnah (Rasulullah saw) wal jamaah (sahabat2nya). Meski kita sering menyebut kata sunnah dalam berbagai perbincangan, barangkali kita masih seperti beo yang fasih mengucapkan suatu kata tanpa dia memahami arti yang terkandung di dalamnya. Meski kita sering mem-bawa2 perkara sunnah dalam kehidupan kita, barangkali keadaannya tidak lebih daripada keledai yang mengangkut buku2 keilmuan tanpa ada sedikitpun manfaat yang dapat diambilnya. Seharusnya kita malu, tapi rasa malu ini se-olah2 hilang tertutup ‘kebesaran’ kita sendiri.

Ketika kita tahu bahwa Rasulullah saw lebih suka menjadi hamba Allah yang sehari lapar dan sehari kenyang, kita malah mencari alasan bahwa beberapa orang sahabat Rasulullah juga kaya raya. Ketika kita tahu bahwa Rasulullah saw menikahi banyak janda untuk menyelamatkan agama, mereka yang malu mencari alasan untuk menutupinya sedangkan sebagian yang lain mencari alasan untuk mendapat 'kesenangan' dari wanita2 muda. Ketika kita tahu bahwa Rasulullah saw sangat sederhana dalam hal makan-minum, pakaian, rumah dan kendaraan, kita malah mencari dalil2 untuk membenarkan kelebihan yang ada pada kita hari ini.

Ketika kita melihat seseorang bersiwak, kita menjadi jijik dan menuduh dengan hati bahwa dia ketinggalan jaman. Ketika kita melihat seseorang menumbuhkan janggut dan memeliharanya, kita merendahkannya dengan mengelompokkannya kepada ‘kambing’. Ketika kita melihat beberapa orang makan berjamaah dalam satu nampan, kita menyangka bahwa mereka adalah orang2 yang tersesat ke dunia modern. Ketika kita melihat orang2 yang berjubah dan bersorban datang ke kampung kita, kita merasa aneh atau kita menjadi panas hati sehingga keinginan kita adalah segera mengusir mereka.

Para ahli ini (sunnah wal jamaaah) sebenarnya dapat kita kenali dari perilaku dan amalan mereka. Mereka adalah orang2 yang tidak mengikat dirinya kepada satu kelompok atau suatu golongan selain hanya kepada sunnah dan jamaah. Pergerakan dan perkataan mereka akan mengingatkan orang2 yang berilmu kepada gambaran Rasulullah dan sahabat2-nya. Oleh karena itu, setiap orang boleh saja mengaku dirinya sebagai ahlinya, akan tetapi orang2 lainpun berhak untuk menilai ‘keahliannya’. Maka beruntunglah mereka yang ahli lalu Allah, malaikat2-Nya dan orang2 berimanpun mengakuinya demikian.

Subhanallah. 
*  

23/05/2008

Keseimbangan

Alhamdulillah. Kita tahu bahwa hasil yang dapat kita peroleh dalam hal apapun adalah berbanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. Bila kita berusaha sungguh2 atas suatu perkara, maka hasilnya adalah sebanding dengan jerih payah yang kita keluarkan. Bila kita berbisnis secara serius, maka keuntungannya pun dapat kita prediksi sebelumnya bahwa hasilnya akan sebanding dengan modal yang kita tanam dan usaha yang kita buat. Dan bila kita berusaha untuk mendapatkan kesuksesan di akhirat, tentu saja hasilnya pun sebanding dengan modal dan usaha kita di dunia ini.

Bila keinginan kita adalah ‘Robbana aatina fid-dunia hasanah wa fil-akhirah hasanah…’ sudah semestinya kita membagi waktu yang kita miliki secara ‘proposional’ atau seimbang untuk dunia dan akhirat kita. Lalu berapa ukuran seimbang di mata kita? Kita sendiri yang tahu jawabannya. Secara jujur kita akui bahwa masa yang kita berikan untuk kepentingan akhirat belum seimbang dibandingkan dengan apa yang kita berikan untuk kepentingan dunia kita.

Bila saja kita memahami hakekat lamanya hari2 di dunia ini, maka kita akan berusaha sekedar untuk dapat hidup dengan kadar yang kita pahami tersebut. Dan bila kita paham akan lamanya hari2 akhirat, maka kita akan berusaha sungguh2 untuk mendapatkan bekal yang sesuai dengan kadar hidup kita di sana. Sayangnya sebagian dari kita terlalu arogan untuk mengakui bahwa ‘saya belum paham’.

Sesungguhnya Allah telah berjanji bahwa Dia akan menggandakan 10 kali lipat (minimal) pada apa saja yang kita buat dalam menunaikan perintah-Nya? (QS 6:160) Dengan cara yang sama, kita dapat menghitung sendiri bahwa orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan (29 atau 30 hari) ditambah 6 hari pada bulan Syawal (jumlahnya 35 atau 36 hari) adalah seperti orang yang berpuasa berterusan sepanjang tahun atau sekitar 354 hari pada hitungan hari-bulan (Alhadits).

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash (ra) berkata, telah bersabda Rasullullah (saw), “Sahum tiga hari setiap bulan itu seperti shaum sepanjang tahun.” (HR Bukhari–Muslim)

Memberi masa yang kita miliki selama 3 hari khusus untuk kepentingan akhirat hanyalah 10% saja dari jumlah hari per bulan. Bila kita keluar di jalan Allah selama 3 hari, tentu nilainya sama dengan se-olah2 kita keluar dijalan-Nya selama sebulan penuh. Bila kita keluar di jalan-Nya secara istiqomah, maka kita akan sampai pada tahap kepahaman bahwa masa yang 27 hari per bulan menjadi terlalu banyak untuk urusan dunia. Lalu kita akan memiliki keinginan untuk menguranginya secara bertahap.

Pada tahap lebih lanjut, masa dua sampai empat bulan untuk kepentingan akhirat tentu belum mencapai 50% dari jumlah bilangan bulan dalam satu tahun. Agar kita dapat memposisikan diri kita sepenuhnya di jalan Allah, sedangkan kita begitu terikat dengan urusan dunia, barangkali kita perlu mencicilnya sedikit demi sedikit. Bila rata2 usia kita adalah 63 (seperti umur Rasulullah saw) dan kita akil baligh pada usia 13 tahun, maka usia wajib ibadah adalah 50 tahun. Bila kita ambil 10% saja sebagaimana kemurahan Allah di atas, maka kita perlu bagi masa 5 tahun penuh untuk usaha atas akhirat kita.

Dengan segala kelemahan yang kita miliki, masa 5 tahun (atau 60 bulan) keluar di jalan-Nya menjadi seperti tidak mungkin. Maka masa tersebut perlu kita cicil. Bila kita mencicilnya 2 bulan setiap tahun, itu akan berarti bahwa kita harus 30 kali keluar di jalan Allah, ini sama artinya kita perlu 30 tahun lagi untuk menunaikannya. Bila usia kita sudah 40 tahun, kita masih punya sisa waktu 23 tahun, maka kita perlu buat percepatan untuk melunasinya, yakni sekitar 3 bulan setiap tahun. Tapi malangnya tidak seorangpun tahu berapa sisa waktu yang dia miliki untuk tinggal di dunia ini. Maka keluar 4 bulan setiap tahun adalah pilihan yang paling bijaksana.

Subhanallah. 
* 

09/05/2008

Memberi

Alhamdulillah. Keinginan kita para da’i adalah memberi kepada mereka atau siapa saja yang memerlukan; apa saja, dimana saja dan kapan saja. Ketika kita melihat orang lain dalam kondisi yang memprihatikan, hati kita mengatakan bahwa kita harus menolongnya. Ketika kita mendengar bahwa orang lain tertimpa musibah, hati kita terdetak untuk membantunya. Ketika kita teringat tentang kesulitan orang lain, maka kita tidak melupakannya dan kita ingin memudahkannya. Kesusahan orang lain se-olah2 adalah bagian dari hidup kita sehingga kita tidak berkeinginan atasnya kecuali untuk segera menggantikannya dengan sesuatu yang menyenangkan.

Sesungguhnya Allah telah menetapkan kemampuan bagi setiap orang atas dasar keperluannya. Dan Dialah yang menetapkan kadarnya dengan adil kepada siapa saja dengan ilmu-Nya. Dan kemampuan untuk memberi dari seorang yang beriman (kepada Allah dan hari akhir) adalah berbanding lurus dengan keyakinannya atas kemurahan Tuhannya. Dan kemampuannya untuk tidak meminta kepada manusia sebanding dengan yakinnya atas khasanah Allah yang tak terbatas.

Bila kita berniat untuk memberi, lalu kita melihat apa yang kita miliki dan menimbangnya dengan apa yang kita perlukan, maka biasanya proses memberi tidak akan berlangsung. Akan tetapi bila kita punya niat yang baik (yang kita tahu bahwa hal itu akan menyenangkan Allah) lalu kita menyadari akan kemurahan Allah dan membandingkan pemberian kita dengan apa yang Allah miliki, maka kita akan segera mendapati bahwa Allah maha kaya dan maha memberi kekayaan kepada siapa saja yang disukai-Nya.

Memberi adalah bagian dari akhlak Allah. Dia menjadi senang bila hal itu ada dan menghiasi manusia2 ciptaan-Nya. Dia memberi apa saja yang diperlukan manusia. Bahkan Dia menyediakan secara gratis justru apa saja yang paling diperlukan dan paling panting bagi manusia. Dia memberi udara, Dia memberi makan dan Dia memberi minum. Tidak dibedakan-Nya pemberian-Nya pada perkara2 yang Dia tahu manusia tidak dapat tinggal di dunia ini tanpanya. Dan Dia tetap memberi kepada mereka yang jelas2 menentang dan melawan-Nya.

Maka bila seseorang berkeinginan untuk dapat memberi kepada sesamanya, yakni demi menyenangkan Allah, padahal dia miskin (baik harta, informasi ataupun waktu), pasti Dia akan membantunya dengan cara-Nya sendiri. Dia akan bukakan pintu2 khasanah-Nya dari arah yang tidak dia duga sebelumnya. Akan tetapi bila keinginan itu ‘dikuburnya’ dan dia tidak berusaha untuk mendapatkan kebaikan dari proses memberi, maka Allah tidak akan membantunya dan cukuplah prasangkanya kepada Allah sebagai balasannya.

Subhanallah. 
* 

Doa Jodoh

Alhamdulillah. Nabi Musa (as) berdoa, "Robbi innii limaa anzalta ilayya min khairin faqier." Artinya: Ya Tuhanku, sesungguhny...