25/04/2008

Lahan Kita

Subhanallah. Banyak diantara kita yang terlalu `josh' atau terlalu bersemangat dalam usaha agama sehingga kadang2 kita justru terjebak dalam gambaran kita sendiri yang sering salah. Dalam keadaan seperti ini kita ingin memberi citra kepada yang lain bahwa kehidupan kita adalah sebagaimana kehidupan para sahabat (Rasulullah saw). Selanjutnya kita berkeinginan untuk lari dari kenyataan bahwa hari ini sebenarnya kita masih seorang dokter, masih seorang engineer, masih seorang accountant, atau mungkin hari ini kita masih seorang supir taksi, masih seorang pekerja di hotel atau barangkali juga kita masih seorang pekerja yang banyak berhubungan dengan maksiat.

Abdurrahman Shahab, seorang `buzruk' dari India, bercerita tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi diri kita dan orang lain dalam usaha agama. Suatu hari dalam satu pertemuan besar di India, datang kepadanya seorang Amerika yang hitam dan tinggi besar (katanya, mungkin 2 meter lebih tingginya). Dia berhajat agar beliau menjadi penterjemah atas masalah yang ingin disampaikannya kepada Hadzratjee, yakni seorang yang dipandangnya lebih sepuh dan lebih layak kepada siapa dia akan bertanya.

Ketika berjumpa dengan Hadzratjee, maka sang warga Amerika menanyakan apakah dia boleh berhenti dari pekerjaannya dan beralih kepada profesi yang pernah ditekuninya selama di universitas, yakni pada bidang engineering. Atas pertanyaan Hadzratjee, warga Amerika tersebut menyatakan bahwa dia ingin lebih banyak punya waktu untuk agama ini. Menurutnya, ketika keluar di jalan Allah, dia mendapatkan penjelasan2 yang sangat berkesan, kepahamannya semakin baik dan dia berniat untuk memberi waktu lebih banyak kepada agama dan usaha atasnya.

"Apa profesimu saat ini?"
"Pemain basket ball. Saat ini saya adalah peringkat ke-2 terbaik di dunia."
"Berapa pendapatanmu?"
"Banyak… banyak sekali, jutaan dollar." jawabnya dengan bangga.
"Bila kamu tidak lagi bermain basket, dimana kamu akan mendapatkan pendapatanmu?"
"Saya akan menjadi konsultant di bidang engineering, saya punya background-nya."
"Berapa yang akan kamu dapat dari pekerjaan itu?"
"Tidak banyak… akan tetapi saya akan punya banyak waktu dengannya."
"Menurutmu, apakah kegiatanmu saat ini menyalahi syariat?"
"Tidak."
"Ketika kamu bermain basket, adakah hal itu mengganggu sholatmu?"
"Tidak, bahkan bila perlu saya akan sholat di lapangan."
"Kalau begitu kembalilah ke negerimu dan jadilah orang nomor satu di dunia."

Beberapa tahun kemudian, dia benar2 kembali dan menyatakan bahwa dia telah jadi orang nomor 1 dunia dalam basket ball.

Hadzratjee melihat bahwa orang sesibuk dan sekaya warga Amerika tersebut masih dapat memberi masanya untuk mengamalkan agama. Kesibukannya dan hartanya tidak menghalanginya untuk keluar di jalan Allah. Orang seperti ini mestinya akan mampu me-`manage' lebih baik lagi bagi `keduniaannya' pada saat kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya semakin baik. Lagi pula orang seperti ini adalah pilihan Allah agar dia berusaha atas orang lain di lingkungannya. Allah menjadikan dia da'i di antara `kaum' pemain basket. Keputusan untuk membiarkan dia merubah profesinya tentunya akan menjadi keputusan yang tidak bijaksana.

Subhanallah. 

11/04/2008

Warley & Abu Darda

Alhamdulillah, keluarnya kita di jalan Allah selama masa tertentu telah menjadikan kita merasa lebih baik dalam banyak sisi tertentu. Kita juga menyadari bahwa perubahan itu benar2 wujud dalam keseharian kita, sama seperti halnya dengan mereka yang mendapatkan bahwa hati mereka lebih tawajjuh kepada Allah.

Memberi masa kita untuk keluar di jalan Allah adalah sesuatu yang menyenangkan dan mendatangkan kebaikan yang banyak, termasuk di dalamya adalah ketenangan dan barakah yang memang Allah khaskan bagi mereka saja. Ketenangan dan kesejahteraan bathin tidak dapat diungkapkan dengan kata2 secara tepat, akan tetapi keduanya dapat dirasakan dengan jelas oleh para pemiliknya. Kalau saja setiap orang tahu nilai ini, tentu kita akan mendapatkan bahwa tidak seorangpun kecuali mereka akan berebut untuk keluar di jalan Allah.

Barangkali kita harus bersyukur lebih banyak lagi kepada Allah. Tidaklah seorang keluar sepagi atau sepetang di jalan Allah kecuali Dia akan memberi ganjaran yang lebih baik daripada dunia beserta isinya (termasuk berbagai asset para konglomerat) kepadanya. Padahal keluarnya seseorang di jalan Allah bukan karena ilmunya, hartanya, kesehatannya, kedudukannya, kefasihan bicaranya ataupun umurnya. Allah-lah yang memilih dengan ilmu-Nya, menetapkan dengan petunjuk-Nya dan mengijinkan dengan kekuasaan-Nya, siapa saja yang layak untuk dikeluarkan di jalan-Nya.

Pada saat saya berada di India, saya telah berjumpa dengan banyak orang dari berbagai negeri. Memang tidak semuanya dapat saya kenal. Namun demikian, latar belakang dan keberadaan mereka sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa mereka adalah orang2 pilihan-Nya. Sungguh, Allah tidak pernah salah menempatkan mereka dijalan-Nya.

Warley adalah seorang ‘native’ Amerika yang masih muda telah keluar di jalan Allah. Pada hari2 selanjutnya, insya Allah, kita akan dapat menjumpainya di madrasah Zakariyya di Afrika Selatan. Dengannya, seolah-olah Allah mengatakan, bahwa bila kita tidak berilmu, padahal kita ada di jalan-Nya, maka Dia sendiri akan menjadikannya berilmu dengan cara-Nya. Dibiarkannya janggutnya yang coklat kemerahan tumbuh, dililitnya kepalanya dengan sorban, dipanjangkan bajunya; semuanya itu adalah sebagian dari perkara2 yang diyakininya akan dapat menyenangkan Allah dan Rasul-Nya.

Abu Darda adalah orang Indonesia yang berdarah China. Saya mendapatkan bahwa dia telah sampai di beberapa pelosok negeri. Saya berjumpa dengannya di Bangladesh. Bila kita yang berasal dari kota dan datang ke rumahnya, barangkali kita tidak ingin memasuki rumahnya yang ada di lereng bukit; boleh jadi karena tempatnya yang terjal atau boleh juga karena rumahnya yang buruk. Bosnya selalu berganti, karena dia mencari nafkah dengan membantu siapa saja yang mau dibantunya. Miskin, karena terkadang tidak ada sesuatu apapun untuk diberikan kepada istrinya. Namun demikian, Allah memilihnya untuk keluar di jalan-Nya.

Ada yang cacat, ada yang tidak memiliki kedudukan apapun di masyarakatnya, ada yang sudah lanjut usia. Semua keadaan itu tidak menjadikan mereka gentar dan tidak pula menjadikan mereka terhalang untuk keluar di jalan Allah. Kenapa mereka mampu melakukannya? Barangkali karena mereka baik hati, bukankah Allah tidak melihat rupa dan kepemilikan mereka? Bukankah Allah mampu melihat kandungan hati di relungnya yang paling dalam? Bukankah Allah melihat dan menerima amal2 mereka yang ikhlas, sementara kita tidak mengetahuinya sama sekali.

Subhanallah. 

28/03/2008

Nabi Yusuf

Masya Allah. Pesan Allah yang Dia sampaikan sendiri kepada Yusuf as, ketika dia masih kecil, adalah jelas dan terang. Yusuf kecil as bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, dan semuanya bersujud kepadanya. Lewat mimpinya, Allah yang menciptakan alam semesta ini, memberi kabar awal bahwa Dia berkehendak untuk meninggikan derajatnya sedemikian rupa sehingga kesebelas saudaranya, emak-bapaknya akan berada di bawah 'kedudukannya'.

Yusuf kecil masih terlalu lemah untuk dapat 'menutup' kehendak Allah manakala orang tuanya, nabi Yakub as, mengharapkan demikian. Akan tetapi, hakikat yang sebenarnya adalah bahwa bila Allah berkehendak, maka Dia sendiri yang akan memaklumkan rencana-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia berkeinginan agar manusia mengetahui rencana2-Nya dan Dia sendiri akan menunjukkan kepada mereka bahwa apapun yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi.

Meskipun demikian, Allah maha pengampun, maha penyayang lagi ‘terlalu longgar’ toleransi-Nya untuk memaksa setiap ciptaan-Nya patuh kepada rencana2-Nya. Dia begitu sabar sehingga seringkali Dia membiarkan nafsu para pendosa dan para penentang-Nya mengalahkan diri mereka sendiri. Hanya waktu saja yang akan membuktikan siapa saja di antara mereka, manusia2 bebal yang menjadi rugi karena bertentangan dengan kehendak Allah.

Allah berkehendak meninggikan Yusuf as dan rencana ini telah dijelaskan kepada saudara2 Yusuf. Manakala mereka (yang merasa diperlakukan tidak adil oleh orang tua mereka) semakin marah dan semakin benci kepadanya, maka kesepakatan mereka adalah menyingkirkan Yusuf se-lama2-nya. Keinginan mereka adalah ‘membunuh’ Yusuf. Mereka bertindak dan (se–olah2) mereka berhasil dengan kesepakatan tersebut.

Allah berkehendak dan Dia pulalah yang paling tahu bagaimana melaksanakan kehendak-Nya. Dia berkuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menjaga dan mengendalikan segala sesuatu dengan kudrat dan iradat-Nya. Dialah yang menggenggam hati setiap manusia dan Dia pula yang mampu meng-guncang2 atau menenangkan hati setiap manusia. Dia berkuasa dan tidak ada satupun selain-Nya yang setara dengan-Nya.

Demi kekuasaan dan keagungan-Nya, Allah selalu mengajarkan kepada kita bahwa Dia tidak pernah lemah dan lengah meskipun sekejap. Maka sia2-lah mereka yang berusaha untuk menggagalkan rencana dan kehendak-Nya. Sejarah telah mengatakan bahwa pada akhirnya saudara2 Yusuf membenarkan rencana Tuhan mereka. Dan mereka sendiri tidak datang dan memohon kepada Yusuf kecuali dalam keadaan parah lagi hina.

Dan bila hari ini kita dapatkan seseorang atau suatu kaum menentang kehendak Allah, barangkali cara yang terbaik untuk mengetahui akhir ceritanya adalah dengan menjaga kesabaran kita sembari berusaha untuk tetap memenuhi dan menuntaskan setiap perintah2-Nya dengan cara yang paling disukai-Nya, yakni cara yang telah dibawa dan dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Subhanallah. 

14/03/2008

Dia Maha Ada

Alhamdulillah. Allah adalah Tuhan yang kepada-Nya kita kembalikan segala urusan kita. Yang kepada-Nya hati kita menjadi condong dan berusaha untuk bersama-Nya. Yang kepada-Nya kita habiskan harta dan masa yang kita miliki agar semakin dekat dengan-Nya. Yang mana kita merasa bergantung dan tidak kuasa hidup tanpa-Nya. Dia Allah, Tuhan kita.

Dia maujud. Dia ada bukan karena suatu ciptaan. Dia ada bukan karena ada di angan2 manusia. Dia ada bukan karena ada yang mengadakan. Dia tidak muncul dari ketiadaan. Dia ada dengan sendirinya. Dia ada sebelum ada yang disebut segala sesuatu. Dia ada meskipun orang2 tidak dapat menjangkau keberadaan-Nya. Bahkan Dia tetap ada walaupun manusia menolak untuk mengakui keberadaan-Nya.

Dia ada bersama dengan segala sesuatu, namun tidak dengan suatu kesertaan. Dia ada pada segala sesuatu, namun Dia tidak bergantung kepadanya. Dia ada dalam setiap suasana dan keadaan, namun tidak terpengaruh ataupun terkesan dengan apa saja yang telah dibuat-Nya sendiri. Bukan pula Dia lain dari segala sesuatu disebabkan keterpisahan darinya. Dia adalah pelaku, namun tanpa gerakan dan tanpa menggunakan suatu alat apapun.

Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Dan kita bersaksi bahwa, memang benar, tidak ada tuhan selain Allah. Dan kita menyaksikan-Nya pada batas nalar kita yang paling tinggi. Kita menyaksikan keberadaan Allah dari dan pada apa saja yang dapat menyatakan-Nya demikian. Cukuplah keterbatasan akal-fikiran kita menjadi saksi bagi akan adanya Dia yang maha ghaib, yang maha tersembunyi.

Dia juga maha melihat, bahkan sebelum adanya suatu apapun untuk dapat dilihat. Dia tidak melihat sebagaimana kita melihat sesuatu, karena Dia tidak memerlukan suatu media apapun untuk melihat. Dia maha melihat meskipun kita selalu gagal untuk membayangkan bagaimana penglihatan-Nya. Sungguh, Dia tidak serupa dengan makhluk2-Nya.

Dia sendiri, disebabkan tidak adanya sesuatu yang dengannya Dia merasa terikat ataupun gelisah bila terpisah darinya. Dia berdiri sendiri, disebabkan tidak adanya sesuatu yang Dia merasa perlu atau bergantung kepadanya. Dia maha suci dari segala sifat yang dimiliki setiap makhluk-Nya. Sungguh, tidak ada tuhan kecuali Allah.

Subhanallah. 

29/02/2008

Dakwah Ila Allah

Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar. “Waman ahsanu qaulan mimman da’aa ilallaahi wa ‘amila sholihaw wa qoola innani minal muslimiin.”

Artinya, “Dan Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah dan mengerjakan amal saleh dan ia berkata ‘Sesungguhnya saya termasuk orang2 yang berserah diri’.” (QS. 41:33)

Da’a ilallah adalah usaha kita dalam mengajak manusia kepada Allah. Usaha ini disebut dengan dakwah. Dakwah adalah kerja yang sangat besar dan sangat agung. Kebesaran kerja ini nampak jelas dari siapa saja yang pernah mengembannya. Nabi2 dan rasul2, mereka adalah orang2 pilihan yang kepadanya Allah amanahkan kerja ini. Inilah kerja yang pada gilirannya menentukan keputusan Allah atas manusia (kaum atau negeri), jaya atau binasa.

Ketika Allah memutuskan nabi Muhammad saw sebagai pamungkas para nabi, maka hal ini sama saja artinya dengan menjadikan ummatnya sebagai pewaris dan penerus kerjanya. Dengan ilmu-Nya, Dia mengetahui bahwa ummat ini memang layak untuk mengembannya hingga hari kiamat. Sungguh, ini suatu kehormatan khusus dari-Nya yang tidak Dia berikan kepada ummat2 sebelum kita.

Sayangnya, kebesaran kerja yang mulia ini seakan-akan terkubur oleh bayang2 kebesaran dunia yang fana. Bila kita berjalan, maka akan kita jumpai hampir di setiap pelosok negeri, orang2 yang tidak lagi paham dengan kerja ini. Bahkan, karena sudah sedemikian buruknya pemahaman akan kerja ini, orang2 yang dianggap ‘alim’-pun mengabaikan kekuatan besar yang terkandung di dalamnya. Mereka tidak lagi yakin dengan kerja besar ini. Mata mereka telah disilaukan dengan pangkat2 yang sebenarnya tidak memberi kepada pemiliknya kecuali beban2 yang berat.

Dakwah telah dibatasi sedemikian rupa sehingga sebagian dari kita menyangka bahwa kerja ini adalah hanya untuk mengajak orang2 kafir ke dalam Islam. Sebenarnya tidaklah demikian. Adzan adalah dakwah yang sempurna, sebagaimana yang kita ucapkan dalam doa kita. Meski adzan ditujukan kepada setiap manusia, nyatanya adzan lebih ditujukan kepada kaum muslim daripada kaum lainnya. Sekali lagi, adzan adalah dakwah yang sempurna, dan setiap dari kita (lelaki) mempunyai kesempatan yang sama untuk mengumandangkannya.

Adzan adalah dakwah yang sempurna, dan kita tahu bahwa cacat tubuh ataupun kekurangan kita (dalam keilmuan) tidak boleh menghalangi kita untuk menyampaikannya.

Subhanallah. 

15/02/2008

Usaha Rasulullah


Laa ilaaha illallah. Bila seseorang yang kita kenal kefasikannya dan suka berdusta datang kepada kita, lalu dia katakan bahwa seseorang tengah berencana untuk mengganggu anak atau istri kita, tentu setidaknya kita akan merasa khawatir juga. Bila ada seorang yang begitu banyak orang mengetahui kejujurannya, mengenal kebajikannya dan bahkan seluruh dunia menyaksikan kebenarannya, datang dan memberi kabar bahwa kehidupan dunia ini sementara dan permainan belaka, bahwa kehidupan sesungguhnya ada di akhirat, lalu kenapa kita meragukannnya? Benar, kita tidak mengatakan keraguan ini, akan tetapi apa yang kita lakukan jelas menunjukkan hal ini.

Bila kita coba panjangkan, pertanyaan tadi boleh ditambah seperti kenapa harus ada ratapan bagi musibah yang datang? Kenapa kita biarkan iri dan dengki membakar habis hubungan baik antar kita. Kenapa kita tega membenamkan sifat kasih sayang yang Allah berikan dengan amarah dan kebencian kepada saudara kita? Kenapa tidak ada rasa takut di dada ini ketika kita menerima rejeki lebih banyak sementara kita tidak mengetahui siapa saja yang berhak atas rejeki yang kita terima? Kenapa kita lebih suka dibebaskan sedikit hari untuk penjara yang abadi dari pada susah di hari ini untuk kejayaan yang selama-lamanya? Dan kenapa-kenapa yang lainnya.

Kenapa demikian? Karena hari ini pandangan kita terpaku pada dunia yang nampak, sedangkan akhirat tidak nampak, tidak dapat dibayangkan, lagi pula saat itu belum lagi sampai kepada kita. Kondisi kita secara umum begitu parahnya. Bukan saja kita tidak memahami perkara akhirat dan semakin jauh dari Allah, robb kita, bahkan hampir-hampir kita tidak mengenal-Nya lagi. Kita telah berbuat dan menempuh jalan yang tidak saja berbahaya, namun juga tidak akan menghantar sampai tujuan. Maka cara terbaik untuk memperbaiki kondisi ini adalah dengan kembali ke pangkal jalan. Berlindung kepada Allah dari ketersesatan dan bergerak hanya pada jalan yang telah ditempuh oleh mereka yang telah sukses di akhirat.

Tidak seorangpun yang memahami buruknya keadaan dirinya sendiri sehingga dia bersihkan hatinya. Tidak akan bersih hatinya kecuali dengan meninggalkan segala perbuatan sia-sia yang menjerumuskannya ke dalam dosa. Tidak akan berkurang dosanya hingga dia kendalikan nafsunya. Tidak akan tunduk nafsunya sampai dia tinggalkan angan-angan. Tidak akan lari angan-angan darinya kecuali dengan usaha untuk tidak mencintai dunia. Dan tidak seorangpun sanggup menghinakan dunia kecuali dengan usaha Rasulullah.

Lalu apakah usaha Rasulullah itu? Usaha ini hanyalah himpunan dari beberapa amalan yang setiap orang telah ditakdirkan-Nya mampu untuk mengamalkannya baik secara individual maupun secara komunal, yakni:
  1. Memperbaiki aqidah dengan dakwah atas iman-yakin yang benar.
  2. Menghilangkan kebodohan dengan ta'lim wa ta'lum.
  3. Memperbaiki hubungan vertikal dengan menyempurnakan dzikir dan ibadah.
  4. Memperbaiki hubungan horizontal dengan khidmat, dengan merendahkan keakuan demi kemuliaan agama.

Subhanallah. 

01/02/2008

Kiat Melunasi Hutang

Alhamdulillah. Kamu telah datang dan menceritakan tentang keadaanmu. Kamu jatuh bangkrut atas usaha yang telah kamu bina selama ini. Kamu berbicara se-akan2 kamu tidak percaya dengan keadaanmu sendiri. Demikian banyak orang yang mendatangimu dan kamu tak punya sesuatu apapun untuk membayar tagihan mereka. Demikian banyaknya hutang yang harus kamu tanggung sehingga kamu se-olah2 merasa bahwa kamulah orang yang paling menderita di dunia saat ini.

Tenang saja nak. Adakalanya memang demikianlah perjalanan hidup anak manusia. Dengan cara demikian, sebenarnya Allah, Tuhanmu, berkehendak memasukkanmu ke dalam golongan mereka yang sabar. Memang benar, ada banyak cara yang Dia miliki untuk menunjukkan kasih sayang-Nya kepada hamba yang disukai-Nya, akan tetapi cara inilah yang kiranya Dia pilih khusus buatmu. Dibuat-Nya keadaan yang menjadikanmu 'dipaksa'  untuk belajar menahan atas segala keinginanmu. Belajar untuk menahan marah atas amarah orang lain.

Ketika kamu berada dalam keadaan seperti ini, tentu kamu menyadari betapa lemah dan rendahnya kedudukanmu. Bila hidup ini diumpamakan sebagai putaran roda,  tentu kamu berada pada posisi terbawah. Semua orang yang datang kepadamu telah menempatkan diri mereka di atasmu. Seakan mereka mempunyai hak untuk marah atau menghujatmu karena kelalaianmu. Meskipun posisimu layak untuk dikasihi, tidak ada salahnya kamu mengasihi mereka yang marah kepadamu. Ketahuilah, mereka tak akan berbuat seperti itu seandainya mereka memahami arti pentingnya menangguhkan waktu pembayaran hutang.

Sebenarnya sama saja bagi Allah terhadap mereka yang di atas atau yang di bawah. Bagi keduanya ada banyak kesempatan untuk meraih kebaikan di sisi-Nya. Barang siapa yang memberi jangka waktu kepada si peminjam agar ada kemudahan untuk membayar hutangnya, maka Allah swt. akan memberi jangka waktu yang cukup baginya untuk bertaubat sebelum matinya, bahkan Dia akan memberi ganjaran sedekah setiap hari sejumlah harta yang dipinjamkannya sampai yang berhutang mengembalikannya.

Bila seseorang dalam keadaan sempit untuk membayar hutang, maka niat dan kesungguhan dalam hati untuk membayarnya akan menjadi asbab bagi turunnya bantuan Allah dan kemudahan dari-Nya bagi melunasi hutang-hutangnya.

Umpama saja hutangmu sebesar gunung dan kamu menyangka berat benar untuk melunasinya, tetap saja penting buatmu untuk berniat membayarnya. Karena barang siapa yang tidak punya niat untuk membayar hutang, Allah swt. akan menuntutnya sebagai pencuri, bahkan pahala kebaikannya akan dialihkan kepada yang memberi hutang dan jika masih belum terpenuhi, maka bersiaplah menanggung dosa-dosa orang tersebut.

Bila kamu memiliki kemampuan minimal untuk membayarnya, segerakan saja pembayaran yang dapat kamu lakukan,  karena termasuk sebaik-baik manusia adalah mereka yang mudah mengembalikan hutang. Dan barang siapa yang menunda-nunda pembayaran hutang padahal ia mampu untuk melakukannya, maka akan bertambahlah satu dosa baginya setiap hari sampai dia melunasinya.

Anakku, bila saat ini kamu dililit hutang sedemikian rupa dan kamu belum mampu melunasinya, bacalah sebanyak-banyaknya ayat di bawah ini,

Katakanlah, "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS 3:26)

Dan berikut ini adalah doa pelengkap yang seharusnya kamu sering memanjatkan kepada-Nya agar kamu mudah membayar hutang,

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan apa saja yang Engkau halalkan dari melakukan apa saja yang Engkau haramkan. Juga kayakanlah aku dengan keutamaan-Mu dari siapa saja selain-Mu."

Atau doa yang berikut,

"Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan gundah gulana. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan dan ketakutan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan tekanan manusia."

Maka apabila kamu memohon kepada Allah, iringilah doamu dengan sangka baik kepada-Nya bahwa Dia pasti memberimu jalan keluar dari lilitan hutang ini. Juga perlu diingat, hendaknya kamu tidak terburu nafsu dalam upaya melunasi hutang2-mu. Meskipun salah satu sifat manusia adalah ter-gesa2, berusahalah bersikap santai dengan tetap menguatkan niat untuk melunasinya sembari menjaga tawajuh pada-Nya. Sungguh, Dia akan membantumu akan tetapi tidak dengan jangka waktu yang kamu maui. Dia akan membantumu dengan batasan waktu yang ditentukan-Nya sendiri.

Subhanallah. 

18/01/2008

Tentang Keimanan

Alhamdulillah. Allah adalah Rabb kita, Tuhan kita, Dia maha pembuka. Sesungguhnya kemampuan untuk membuka atau menguak sesuatu telah Dia anugerahkan kepada manusia. Meski demikian, apa yang Dia berikan kepada manusia yang menjadikan manusia kagum kepada dirinya sendiri, adalah bagian yang sangat kecil dari apa yang Dia miliki. Semoga Dia yang maha pembuka memberimu kemampuan untuk menguak dan memahami apa yang menjadi kehendak dan keinginan-Nya.

Dan salah satu yang diinginkan Allah dari kita adalah agar kita memiliki iman yang sempurna kepada-Nya atau agar keyakinan kepada-Nya tidak berbelah bagi. Bila kita memiliki keyakinan kepada-Nya hingga 99.99%, maknanya kita tetap saja mempunyai ketidak-yakinan sebesar 0.01% kepada-Nya. Tidak yakin kepada-Nya sama saja dengan yakin kepada selain-Nya. Bila kita yakin kepada selain-Nya, jatuhlah kita ke dalam syirik. Padahal syirik adalah sebesar-besarnya dosa. Dia memaafkan setiap dosa yang kita buat kecuali dosa syirik.

Adalah Dia berkehendak agar kita memiliki iman yakin yang bulat 100%. Yakin bahwa Dialah yang menciptakan kita. Dialah yang menghidupkan kita dan Dia pula yang memelihara kita. Dia yang menghadirkan kita di dunia untuk suatu jangka waktu yang tertentu, Dia pula yang mencukupi segala keperluan kita, Dialah yang maha memberi rejeki. Dia juga yang menjadikan kita sehat atau sakit. Dia yang menciptakan segala suasana dan keadaan supaya diketahui siapa yang paling baik amalnya. Dia yang menghidupkan, Dia pula yang berkuasa untuk mematikan setiap yang hidup.

Luar biasa, tidak ada sedikitpun kekhawatiran bagi seorang yang sempurna yakinnya. Apa saja yang sudah ditetapkan-Nya di dunia ini untuk menjadi bagiannya, pasti akan sampai kepadanya. Akan tetapi apa saja yang telah ditetapkan-Nya bukan untuk menjadi miliknya, pasti tidak akan sampai kepadanya meski dia berusaha mendapatkannya siang dan malam, bahkan meskipun seluruh makhluk dikerahkan untuk membantunya.

Hidup ini terasa mudah bagi mereka yang memiliki iman yakin yang sempurna kepada-Nya. Tidak ada kesulitan dan kesusahan yang menjadikannya bersedih (yang berkepanjangan). Tidak pula musibah menjadikannya berduka cita. Seolah-olah dia mengetahui hikmah dan hakikat setiap kejadian yang berlaku. Dan boleh jadi demikianlah ilmu dan hikmah yang Allah hadiahkan kepada mereka yang telah menyempurnakan keimanan dan keyakinannya.

Sesungguhnya Allah telah memberi jaminan rejeki bagi siapun yang bernyawa. Bila kita bekerja di suatu instansi, yakinlah bahwa Dia menyampaikan rejeki kita melalui cara yang demikian. Bila kita berdagang, melalui dagangan tersebutlah rejeki dari-Nya sampai kepada kita. Bila kita menganggur, tetap saja ada cara bagaimana Dia memelihara para penganggur. Sungguh, Tidak ada seorangpun yang diperkenankan-Nya hidup di dunia ini, kecuali Dia cukupkan keperluannya dan Dia berikan seluruh rejeki yang telah ditetapkan-Nya untuk menjadi bagiannya.

Bila seseorang telah yakin dengan perkara demikian, tentu dia akan berusaha untuk mendapatkan apa saja yang diperlukannya namun tidak ada dalam 'daftar' pemberian gratis yang datang dari-Nya. Amal, yang ini adalah tangggung jawab dari setiap diri untuk mendapatkannya. Bila seseorang menjadi mudah atau memudahkan dirinya untuk perkara yang sudah ditetapkan-Nya, maka sungguh dia akan memiliki cukup waktu untuk melakukan amal apa saja. Tentu saja, setiap orang tidak ingin menjadi bodoh dengan melakukan amal yang tidak berguna.

Subhanallah. 
*

04/01/2008

Dia kekasih Allah

Alhamdulillah. Nabi Muhammad saw. adalah Rasulullah, hamba-Nya sekaligus kekasih-Nya. Tidaklah seseorang termasuk ke dalam golongan mereka yang berilmu dan berpengetahuan lagi lapang dada, kecuali mengakuinya demikian. Kehadirannya di dunia ini dan apa-apa yang dilakukannya membenarkan apa yang telah diberitakan para nabi dan utusan Allah sebelumnya. Seakan-akan dunia ini dicipta hanya untuk menyempurnakan kehadirannya, akan tetapi memang demikian kehendak Allah terhadap kekasih-Nya.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela dilahirkan sebagai anak yatim. Bapaknya meninggal pada saat awal-awal lagi sebelum dia lahir. Salah satu tanda kerelaannya adalah dia tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang terpuji, baik tingkah laku maupun perangainya. Adalah suatu kenyataan bahwa dia mencintai anak-anak yatim dan dia mencintai orang-orang yang mencintai anak-anak yatim.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela beristrikan Khadijah ra. yang janda. Salah satu tanda kerelaannya adalah dia tidak mencari istri lain hingga Allah swt. sendiri menarik istrinya ke haribaan-Nya dan menetapkan batasan waktu bagi pendampingannya (yang sekitar 25 tahun). Dia mencontohkan kepada kita agar kita iba dan kasih kepada mereka yang janda.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela untuk binasa demi dakwah atau usaha agama. Salah satu tanda kerelaannya adalah seperti yang terkandung dalam kata-katanya ketika para pemuka Quraisy datang kepada pamannya untuk menghentikan usaha yang dilakukannya. Mereka menawarkan harta, wanita, dan kedudukan yang sangat menjanjikan kepadanya. “Wahai paman, sekiranya mereka bisa meletakkan matahari di tangan kanan dan bulan di tangan kiri, niscaya aku tidak akan berhenti dari usaha ini atau aku binasa karenanya.”

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela dihina dan disakiti demi ketinggian dan tersebarnya agama yang haq. Salah satu tanda kerelaannya adalah ketika malaikat menawarkan jasa kepadanya untuk menghancurkan penduduk Tha’if yang menzhaliminya, dia malah menenangkan malaikat yang ‘emosi’, karena menurutnya kaum tersebut adalah kaum yang belum paham. Bila saja tidak mereka, tentu anak cucu mereka yang akan menerima agama ini. Dia mengajarkan cara terbaik untuk menyebarkan agama yaitu dengan landasan korban atas diri sendiri tanpa perlu menghancurkan mereka yang justru merupakan lahan dakwah.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela mengunjungi mereka yang berasal dari kelas bawah. Salah satu tanda kerelaannya adalah dia mendatangi Bilal ra. Dia tidak datang kecuali agar agama ini sampai kepada mereka yang dijauhkan oleh kondisinya. Tidak disampaikannya agama melainkan dengan khidmat atau bantuan yang pada gilirannya hal itu menundukkan hati dan jiwanya. Ditunjukkannya kepada kita bagaimana awal agama ini dipikul dan digerakkan terutama oleh mereka yang tidak memiliki apapun kecuali yakin yang benar kepada pemilik yang sesungguhnya dari segala sesuatu.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela menjadi bagian dari kaum masakin. Salah satu tanda kerelaannya adalah ketika Allah menawarkan pilihan melalui malaikat-Nya untuk menjadi nabi yang raja atau nabi yang kaya, dia lebih memilih untuk menjadi seorang nabi, hamba-Nya yang sehari kenyang sehari lapar. Dengan cara seperti itulah dia dapat bersyukur ketika kenyang dan bersabar ketika lapar. Kepada sahabat-sahabatnya yang miskin, dia memberikan kabar gembira bahwa orang-orang miskin akan memasuki surga setengah hari lebih awal daripada orang-orang kaya, dan setengah hari di sana kadarnya sama dengan lima ratus tahun.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela beribadah berpanjangan di malam hari. Salah satu tanda kerelaannya adalah ketika sang istri yang tahu persis bagaimana keadaannya, menanyakan perihal ibadahnya yang banyak yang sering mengakibatkan kakinya menjadi bengkak, sedangkan dia adalah kekasih-Nya yang maksum, yang sudah pasti diampuni kesalahan dan dosa-dosanya. Meski sudah jelas tempatnya, dengan ibadahnya dia ingin tetap bersyukur atas pilihan dan apa saja yang Allah tetapkan baginya.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela makanannya dari gandum yang kasar dan tidurnya di atas tikar. Salah satu tanda kerelaannya adalah seperti yang ditunjukkannya ketika dalam satu keadaan Umar bin Khattab menjumpainya yang membuat dia sendiri gagal membendung aliran air matanya. Tidak dilihatnya kecuali makanan kasar yang ada di sisi rasulullah, sedangkan kesan guratan-guratan dari tikar yang ditidurinya nampak jelas membekas di badannya. Dalam pandangannya, kaisar Rum dan kisra Persi yang ingkar telah memperoleh kebaikan dunia, apalagi seharusnya kekasih dan utusan Allah ini. Rasulullah mengingatkan bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan kekal.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela melakukan hal-hal yang hari ini (karena kebodohan kita) kita tidak rela untuk melakukannya. Dia menjahit dan menambal sendiri pakaiannya, dia memperbaiki sepatunya, dia makan sebagaimana seorang hamba makan, dia makan bersama bahkan dengan sahabat dari kalangan yang terendah pada nampan yang sama. Dia menjamu siapa saja yang datang kepadanya. Dia mengunjungi siapa saja yang ada dalam kesusahan dan musibah. Dan dia juga tidak malu memberi sedikit, karena memang itu yang dimilikinya.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia tidak rela kalau ummat ini jatuh ke dalam kebinasaan. Dia tidak rela kalau ummat ini ada dalam adzab Allah. Dia mencemaskan kita. Telah diperlihatkan kepadanya neraka yang apabila seseorang melihatnya, meski satu bagian yang paling kecil, niscaya akan hilang seluruh senyum, canda dan tawanya hingga akhir hayatnya. Dia mengkhawatirkan keadaan kita, bagaimana setiap dari kita dapat dipastikan selamat. Demi cintanya kepada ummat ini, maka kecemasan Rasulullah ini dibawanya hingga akhir hayatnya, ‘ummati, ummati, shalat, shalat’.

Kita sering katakan bahwa kita mencintai Rasulullah. Sungguh beruntung orang-orang yang memiliki kecintaan yang satu ini, karena bila sesuatu dimuliakan, biasanya segala sesuatu yang terkait dengannya juga akan menjadi mulia. Rasulullah, kita menyadarinya atau tidak, adalah mulia baik di sisi manusia apalagi di sisi Allah. Bila kecintaan itu ada, maka hal itu seperti tali pengait antara yang mencintai dan yang dicintai. Di dunia kita akan dimuliakan, di akhirat kita akan bersama orang yang dicintainya.

Saat ini seolah-olah kemuliaan kita dan kemuliaan ummat ini hilang. Padahal tanda-tanda yang boleh kita kenali hanya selagi kita ada di dunia ini. Kita belum lagi sampai ke akhirat, hingga kita tidak tahu apakah kita bersama orang yang kita cintai atau tidak. Bila di dunia ini saja kita menjadi hina atau dihinakan dalam hal keduniaan, tentu ada yang salah dalam percintaan ini. Kita perlu ishlah diri dan berupaya sungguh-sungguh untuk itu.

Orang yang bercinta cenderung ‘mabuk’ kepada segala sesuatu yang ada kaitannya dengan orang yang dicintainya. Mungkin kita tidak pernah ‘mabuk’ cinta sebagaimana Qais Amiri dalam kisah cinta Laela Majnun yang abadi. Dia mencintai apa saja yang ada kaitannya dengan Laela. Akan tetapi demikianlah syarat dalam bercinta, karena bila hal ini tidak terjadi, sesungguhnya di situ tidak ada cinta.

Kita mencintai Rasulullah saw. Namun demikian, kenapa kita tidak menampilkan diri dalam keseharian sebagaimana Rasulullah berpenampilan? Kenapa kita tidak berbuat selama hari-hari kita sebagaimana Rasulullah berbuat sesuatu yang istiqomah dilakukannya? Kenapa kita tidak menggunakan hati dan fikir kita sebagaimana Rasulullah berpikir dan merisaukan ummat ini? Kenapa kita malu menyatakan cinta kita dengan cara yang demikian?

Hanya kepada Allah jualah kita memohon taufiq dan hidayah-Nya. Semoga Dia yang maha luas ilmunya, maha sabar dan maha pemberi, mengaruniakan cinta yang sejati kepada kita. Cinta yang tumbuh secara bertahap namun pasti menjadi sempurna. Cinta kepada-Nya dan cinta kepada Rasul-Nya dan cinta kepada orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Sungguh, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan-Nya.

Subhanallah. 

28/12/2007

Istri dan Usaha Perbaikan


Subhanallah. Tidak ada kata terlambat buat setiap usaha untuk memperbaiki keadaan kita. Dan memang kita tidak akan pernah terlalu terlambat untuk memulai lagi setiap perbaikan dalam menjadikan keluarga kita bahagia. Sudah semestinya kita tidak perlu memiliki kata2 'terlanjur salah langkah' untuk menjadikan istri kita sedap dipandang. Masih banyak pintu yang boleh kita lalui untuk mengeluarkan kita dari masalah2 genting yang boleh jadi mengerubuti kita hari ini. Ingat saja, karena tujuan kita adalah kebahagiaan yang hakiki di akhirat, maka bila ternyata usaha kita tidak sampai pada tahap kesempurnaan, misalnya karena usia kita keburu habis, tentu Allah yang pengasih dan penyayang akan menyempurnakannya buat kita. Yang jelas, Dia akan memasukkan kita ke dalam kelompok orang2 yang berbahagia sesuai dengan apa yang kita coba raih di dunia ini.

Menurut riwayatnya, pada awalnya wanita diciptakan dari tulang rusuk lelaki pertama, Adam as. Manakala dia hadir sebagai manusia yang sempurna di samping kita, tidak selayaknya kita biarkan 'tulang rusuk' itu tetap bengkok. Pada kenyataannya, usaha ini sungguh sulit dan kita tidak tahu secara pasti bagaimana meluruskan 'tulang rusuk' supaya tidak bengkok. Bila usaha kita terlalu keras, boleh jadi, dia akan patah. Bila usaha kita terlalu lemah, dia akan tetap seperti bentuknya. Untung saja Allah swt yang sangat tahu akan ketidakmampuan kita, telah menurunkan contoh dan solusi yang jelas dalam hal ini. Lihatlah bagaimana Nabi Muhammad (saw) dengan segala kesederhanaannya dan dengan berbagai ragam karakter istrinya, telah merasakan bagaimana menikmati istri. Tidak akan terkeluar perkataan 'Rumahku Surgaku', kecuali benar-benar beliau merasakan kebahagiaan dalam rumahnya tangganya.

Sudah sampaikah berita dari Rasulullah (saw), bagaimana hendaknya kita berlaku terhadap istri kita? Sebagaimana kita mempunyai hak atas isteri kita, dia juga mempunyai hak atas kita. Sekiranya dia menyempurnakan hak kita, maka dia juga berhak untuk diberi perhatian, makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Sudah layak dan sepantasnya kita melayani dia dengan baik dan berlemah lembut terhadapnya. kerana sesungguhnya dia adalah teman sekaligus pembantu kita yang setia. Sedangkan hak kita atasnya adalah dia sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kita tidak sukai ke dalam rumah kita dan dilarang melakukan zina.

Pernahkah kita perhatikan apa yang berlaku pada istri kita untuk satu tindakan kita yang positif terhadapnya? Percayalah, bahwa sedikit pujian yang tulus dari kita untuk satu perbuatannya dalam berkhidmat kepada kita akan menghilangkan seluruh kelelahannya. Sedikit senyuman kepadanya akan mengusir seluruh kesal dan kejemuannya yang mungkin bertumpuk pada hari-harinya. Sejurus pandangan kita yang bersih ke matanya akan menjadikan dia lebih merendah lagi kepada kita. Apa2 yang kita berikan kepadanya dengan kasih sayang akan membuat dia selalu berusaha menciptakan hari2 yang indah buat kita. Dan bahwa sedikit kebaikan tingkah laku kita sudah cukup baginya untuk memperlihatkan kepada kita bahwa dia adalah seorang yang lemah yang mengharapkan perlindungan kita.

Ketika kesibukan kita (juga dalam usaha agama atau dakwah) begitu banyak menyita waktu untuk bersamanya, tentu akan timbul ke permukaan masalah-masalah yang berkaitan dengan hilangnya waktu itu. Rutinitas kita di luar jangkauan pandang istri kita, tentu akan menumbuhkan prasangka yang tidak baik baginya. Bila hal ini yang terjadi, sebenarnya dia tidak salah (100%), karena kita telah menempatkan diri kita pada tempat yang menjadikannya demikian. Kita tidak (belum) melibatkannya dalam kegiatan yang seharusnya juga merupakan bagian dari misi hidupnya. Ketidaktahuan atau ketidak-pahamannya akan menjadi semacam ladang bagi tumbuhnya berbagai semak belukar yang pada gilirannya akan menyusahkan kita.

Dalam kondisi seperti ini, saat satu dan yang lain saling tuding, kita justru akan terjebak kepada kondisi yang lebih buruk lagi. Bila kita punya satu kata untuk satu ungkapan, boleh jadi istri memiliki lebih banyak lagi kata2. Dan belajar dari pengalaman kita sendiri, pertengkaran tidak pernah dapat menyelesaikan masalah kita. Pada situasi begini alangkah bijaknya bila kita mau belajar dari bayi. Berlaku seperti seorang bayi yang lucu dan menyenangkan, tidak akan mendatangkan kerugian sedikitpun buat kita. Dan sudah selayaknya kita berlaku seperti seorang bayi terhadap keluarga kita, meskipun  kita adalah seorang lelaki yang sejati. Bayi tidak pernah marah dengan kata-kata yang pedas atau kotor, karena memang demikian tabiatnya. Akan tetapi bila dia memerlukan sesuatu, keinginannya akan segera dipenuhi.

Sebenarnya kita tidak akan mempunyai masalah yang besar atas hilangnya waktu ini, bila saja kita arif memanfaatkan kebersamaan dengannya. Bila kita hanya mempunyai sedikit kesempatan untuk bersamanya, yakini saja bahwa sedikit waktu yang kita miliki tersebut sangat mahal harganya. Kebaikan yang boleh kita dapatkan dari keadaan ini bergantung kepada bagaimana kita menghargai waktu yang sangat mahal ini. Perlu diingat bahwa kemuliaan seseorang juga terletak pada sikapnya dalam menghadapi keadaan ini.

Usaha perbaikan yang dapat kita lakukan pada dasarnya adalah untuk kebaikan kita juga. Istri kita bukanlah seorang malaikat. Dia manusia biasa seperti kita yang dapat lupa atau salah. Barangkali juga sudah saatnya kita bersikap merendah kepada orang2 tua kita yang lebih banyak pengalamannya, lebih baik ilmunya, lebih tegar dan lebih arif dalam bersikap serta lebih kokoh menghadapi beraneka badai kehidupan.

Berikut ini nasehat mereka kepada kita, agar usaha perbaikan yang kita buat tidak membuahkan kecuali kebahagiaan yang dapat kita rasakan selagi di dunia dan akan kita petik lebih banyak lagi di akhirat kelak:
  1. Penuhi hak keluarga sesuai dengan kemampuan kita. Dengan melatih hidup sederhana sekaligus menyederhanakan segala sesuatu yang berkenaan dengan keperluan keluarga. Hal demikian akan menjadikan seolah pendapatan kita berlebih. Bila pendapat kita memang minim, tidak membutuhkan sesuatu adalah satu bentuk kekayaan yang kita miliki.
  2. Menyayangi anak-anak kita di depan istri. Sudah menjadi tabiat seorang ibu yang punya kasih-sayang yang lebih baik dari kita terhadap anak-anaknya. Sebentuk perhatian semisal senyum atau nasehat yang teduh kepada anak2 kita yang tidak dapat diwakilkan oleh istri kita, biasanya akan menutupi lubang-lubang dalam hubungan kebersamaan ini.
  3. Bawa istri jalan2. Yang ini tidak sekedar keluar dari rumah untuk kembali tanpa perbincangan. Jalan-jalan dengan cara yang murah, berjalan kaki yang dengannya kita dapat bincang2 dalam suasana santai, yang dengannya dapat kita bergandeng tangan (dengan cara yang sopan). Kesan indah biasanya melekat di hati istri untuk masa seminggu atau sebulan berikutnya.
  4. Puji masakannya bila pantas dipuji dan tidak mencaci bila ada yang salah. Sebenarnya sudah cukup buat kita untuk berterima kasih atas makanan atau minuman minimal yang kita perlukan agar kita tetap hidup. Bila istri kita membuatnya lebih baik, lebih banyak atau lebih sedap dari kebutuhan minimal kita, kenapa kita sembunyikan pujian buatnya? Bila dia memuji Allah atas pujian kita, secara tidak langsung ini akan berarti kita memuji-Nya juga.
  5. Puji bila nampak kebaikannya. Apa yang dia buat kemudian kita membenarkannya dan dia senang melakukannya karena kita memujinya, lambat laun perkara itu akan menjadi kebiasaannya, yang tentu saja kita akan menikmatinya.
  6. Cerita di malam hari. Adakalanya kita menyadari bahwa kita benar2 'tidak punya' waktu di rumah karena kesibukan kita. Bila hal ini terjadi, jangan buang kesempatan untuk sedikit mengobrol sebelum tidur. Meski kita terlalu penat, buat se-olah2 mata ini siap untuk menemaninya. Jangan khawatir, biasanya istri kita punya banyak bahan cerita. Sederhana saja, dia mau agar kita mendengarnya.
  7. Beri hadiah. Selama ini kita sering berfikir bahwa hadiah pantas diberikan kepada orang yang berjasa atau punya kelebihan yang kita patut menghargainya. Kalau kita mau menghitungnya, istri kita sudah tentu patut mendapatkannya. Berikan saja hadiah itu kepadanya dan kita akan melihat apa yang berlaku kemudian.
  8. Hias diri kita buatnya. Dia telah menjaga auratnya sedemikian rupa sehingga hanya kita yang menikmatinya. Supaya ada keseimbangan, hendaknya kita juga menjaga penampilan buatnya. Bila kita tidak menyukai sesuatu yang busuk atau kusut, tentunya hal ini juga berlaku padanya.
  9. Jaga akhlak. Akhlak yang baik selamanya akan membawa keberuntungan. Bila akhlak kita sebagaimana Allah menghendakinya, tentu saja kita akan laksana cahaya yang menerangi seluruh anggota keluarga. Padahal bila anggota keluarga kita mendapat cahaya itu, mereka akan memantulkannya lebih jauh lagi.
  10. Doa buat istri. Kita selalu berharap supaya kita dikumpulkan sebagaimana keluarga Rasulullah dikumpulkan. Dan doa kita kepada Allah buat kebaikan istri kita selalunya tidak kembali kecuali membawa kebaikan yang lebih besar lagi.
Subhanallah.

14/12/2007

Istri Kita Ada Disamping Kita

Alhamdulillah. Salah satu bentuk kebahagiaan yang sudah selayaknya dinikmati dan disyukuri adalah bahwa Allah swt memberi kita istri dari jenis kita sendiri. Dia tidak menyeramkan dan tidak pula menakutkan, bahkan kita cenderung menjadi tenang dan tenteram dengan keberadaannya di samping kita. Pasangan yang Allah telah tentukan menjadi istri kita adalah jodoh yang paling sesuai bagi-Nya yang Dia pilih sendiri buat kita. Sudah semestinya kita menyadarinya bahwa dia sederajat dengan kita dalam pandangan Allah, utamanya dalam kesempatan untuk memperoleh nilai-nilai dan ganjaran di sisi-Nya. Dialah orang yang mestinya akan berada satu 'kelas' dan duduk bersama kita di akhirat kelak.

Maka tidak ada alasan untuk tidak bersyukur kepada-Nya ketika kita menyadari bahwa pada kenyataannya istri kita hanya memberikan kecantikannya buat kita. Atau kita menyadari bahwa istri kita memiliki lisan yang sangat lancar bertutur-kata namun dia juga menyimpan kecintaan yang banyak untuk sang suami, sehingga terkadang orang lain heran kenapa kita betah berlama-lama di dekatnya. Atau istri yang kita miliki tidak cantik, akan tetapi setiap pandangan kita yang jatuh kepadanya selalunya tidak kembali kecuali dengan membawa hasrat untuk lebih merapatkan badan ini kepadanya. Atau istri yang tidak punya ambisi kecuali menjadikan kita rajanya dan tidak punya kata-kata kecuali untuk mengutarakan berbagai bentuk ketaatannya kepada kita. Atau ketika kita menyadari bahwa istri kita adalah seorang yang mau menang sendiri akan tetapi pada saat yang sama Allah swt berikan kepada kita sebentuk kesabaran khusus untuk menghadapinya.

Ada masanya kita dapatkan bahwa sang istri tidak seperti harapan kita atau seperti yang kita bayangkan sebelum pernikahan. Adakalanya istri kita berbeda jauh dengan model-model ideal yang kita simpan dalam ingatan kita. Atau adakalanya dia termasuk seorang yang gemar merengek, gemar mengadu, gemar mengeluh atau gemar belanja atau juga seorang peniru yang sempurna dari lakon-lakon sandiwara yang ditontonnya. Bila kita menghadapi keadaan ini atau perjalanan kita sampai pada tahap ini, yang mana seolah-olah tidak ada kecocokan antara kita dengannya, hendaknya kita tidak terlalu cepat menyimpulkan, juga hendaknya tidak cepat-cepat menuduh bahwa istri kita adalah seorang yang berengsek. Hendaknya kita ingat bahwa selama ini dia hidup bersama kita. Dia ada di samping kita. Dia terbentuk sedemikian rupa karena kita ada di sampingnya. Sesungguhnya dia dapat merupakan cermin yang sebenarnya tentang bagaimana diri kita.

Istri kita, dia berada di samping kita. Kita melihat bagaimana dengan segala kelemahannya, dia tekun dan tulus dalam menunaikan berbagai kewajibannya sebagai seorang istri. Dia menyediakan makanan  yang menyukakan kita, padahal dengan berbagai alasan kita mencoba menghindari mengolahnya sendiri. Dia mencucikan dan merapikan baju kita yang karenanya, tangannya terkadang menjadi kasar bahkan menjadi jelek dengan kutu air. Dengan versinya, dia juga menjaga agar kita nampak mulia dan berwibawa dalam pandangan orang di sekitar kita. Dia juga mengurus anak-anak kita, memandikan dan membersihkannya. Adakalanya dia terpaksa berteriak kepada mereka yang membuat telinga yang mendengarnya hampir-hampir pecah dibuatnya. Dia melakukan semua itu seolah tanpa beban. Dia melakukan semua itu dengan satu harapan saja, bahwa dia dapat bertindak sebagaimana layaknya seorang istri di depan kita.

Sahabat, tidak ada sesuatu yang dapat mendatangkan lebih banyak kebaikan selain takut yang benar kepada Allah. Rasa takut kita kepada Allah dalam memperlakukan istri atau dalam berhubungan dengannya, niscaya akan menarik rahmat-Nya dan akan menurunkan jalan-jalan petunjuk dari-Nya. Takut kepada Allah dalam menjalani hari-hari yang kita lalui bersama istri kita, tidak akan menimbulkan kecuali suasana dan keadaan yang penuh sakinah. Kedekatannya kepada kita di dunia ini tentu akan menjadi semacam tali yang mengikat kita hingga ke akhirat kelak. Bila sang istri tidak dapat menjadikan kita ahli surga, tentu dia akan menyeret kita ke dalam neraka jahanam. Sungguh, istri kita memiliki andil yang besar untuk menentukan bentuk kepemilikan kita di akhirat kelak. Dia mempunyai saham untuk menjadikan kita seorang ahli surga atau ahli neraka.

Kehati-hatian yang tidak kelewat batas, selamanya akan membawa kita kepada kebaikan. Demikian pula dalam kaitannya dengan istri kita. Bila kebersamaannya dengan kita di dunia ini tidak menjadikan kita mudah untuk mengamalkan agama atau untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, tentu hal ini akan berarti bahwa kita bersiap sedia untuk menyesal selama-lamanya. Akan tetapi penyesalan kita di akhirat tidak akan berguna sama sekali. Bila saja sang istri yang acapkali kita dekap tidak memberi peluang bagi kita untuk bermaksiat, tentu dekapan itu akan merupakan ikatan yang teguh yang dapat menghindarkan kita dari dosa. Padahal barang siapa yang dapat menghindari perbuatan dosa, dia akan memiliki harapan untuk mendapat ampunan dari yang maha pemberi ampun.

Subhanallah. 

Doa Jodoh

Alhamdulillah. Nabi Musa (as) berdoa, "Robbi innii limaa anzalta ilayya min khairin faqier." Artinya: Ya Tuhanku, sesungguhny...