23/05/2008

Keseimbangan

Alhamdulillah. Kita tahu bahwa hasil yang dapat kita peroleh dalam hal apapun adalah berbanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. Bila kita berusaha sungguh2 atas suatu perkara, maka hasilnya adalah sebanding dengan jerih payah yang kita keluarkan. Bila kita berbisnis secara serius, maka keuntungannya pun dapat kita prediksi sebelumnya bahwa hasilnya akan sebanding dengan modal yang kita tanam dan usaha yang kita buat. Dan bila kita berusaha untuk mendapatkan kesuksesan di akhirat, tentu saja hasilnya pun sebanding dengan modal dan usaha kita di dunia ini.

Bila keinginan kita adalah ‘Robbana aatina fid-dunia hasanah wa fil-akhirah hasanah…’ sudah semestinya kita membagi waktu yang kita miliki secara ‘proposional’ atau seimbang untuk dunia dan akhirat kita. Lalu berapa ukuran seimbang di mata kita? Kita sendiri yang tahu jawabannya. Secara jujur kita akui bahwa masa yang kita berikan untuk kepentingan akhirat belum seimbang dibandingkan dengan apa yang kita berikan untuk kepentingan dunia kita.

Bila saja kita memahami hakekat lamanya hari2 di dunia ini, maka kita akan berusaha sekedar untuk dapat hidup dengan kadar yang kita pahami tersebut. Dan bila kita paham akan lamanya hari2 akhirat, maka kita akan berusaha sungguh2 untuk mendapatkan bekal yang sesuai dengan kadar hidup kita di sana. Sayangnya sebagian dari kita terlalu arogan untuk mengakui bahwa ‘saya belum paham’.

Sesungguhnya Allah telah berjanji bahwa Dia akan menggandakan 10 kali lipat (minimal) pada apa saja yang kita buat dalam menunaikan perintah-Nya? (QS 6:160) Dengan cara yang sama, kita dapat menghitung sendiri bahwa orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan (29 atau 30 hari) ditambah 6 hari pada bulan Syawal (jumlahnya 35 atau 36 hari) adalah seperti orang yang berpuasa berterusan sepanjang tahun atau sekitar 354 hari pada hitungan hari-bulan (Alhadits).

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash (ra) berkata, telah bersabda Rasullullah (saw), “Sahum tiga hari setiap bulan itu seperti shaum sepanjang tahun.” (HR Bukhari–Muslim)

Memberi masa yang kita miliki selama 3 hari khusus untuk kepentingan akhirat hanyalah 10% saja dari jumlah hari per bulan. Bila kita keluar di jalan Allah selama 3 hari, tentu nilainya sama dengan se-olah2 kita keluar dijalan-Nya selama sebulan penuh. Bila kita keluar di jalan-Nya secara istiqomah, maka kita akan sampai pada tahap kepahaman bahwa masa yang 27 hari per bulan menjadi terlalu banyak untuk urusan dunia. Lalu kita akan memiliki keinginan untuk menguranginya secara bertahap.

Pada tahap lebih lanjut, masa dua sampai empat bulan untuk kepentingan akhirat tentu belum mencapai 50% dari jumlah bilangan bulan dalam satu tahun. Agar kita dapat memposisikan diri kita sepenuhnya di jalan Allah, sedangkan kita begitu terikat dengan urusan dunia, barangkali kita perlu mencicilnya sedikit demi sedikit. Bila rata2 usia kita adalah 63 (seperti umur Rasulullah saw) dan kita akil baligh pada usia 13 tahun, maka usia wajib ibadah adalah 50 tahun. Bila kita ambil 10% saja sebagaimana kemurahan Allah di atas, maka kita perlu bagi masa 5 tahun penuh untuk usaha atas akhirat kita.

Dengan segala kelemahan yang kita miliki, masa 5 tahun (atau 60 bulan) keluar di jalan-Nya menjadi seperti tidak mungkin. Maka masa tersebut perlu kita cicil. Bila kita mencicilnya 2 bulan setiap tahun, itu akan berarti bahwa kita harus 30 kali keluar di jalan Allah, ini sama artinya kita perlu 30 tahun lagi untuk menunaikannya. Bila usia kita sudah 40 tahun, kita masih punya sisa waktu 23 tahun, maka kita perlu buat percepatan untuk melunasinya, yakni sekitar 3 bulan setiap tahun. Tapi malangnya tidak seorangpun tahu berapa sisa waktu yang dia miliki untuk tinggal di dunia ini. Maka keluar 4 bulan setiap tahun adalah pilihan yang paling bijaksana.

Subhanallah. 
* 

09/05/2008

Memberi

Alhamdulillah. Keinginan kita para da’i adalah memberi kepada mereka atau siapa saja yang memerlukan; apa saja, dimana saja dan kapan saja. Ketika kita melihat orang lain dalam kondisi yang memprihatikan, hati kita mengatakan bahwa kita harus menolongnya. Ketika kita mendengar bahwa orang lain tertimpa musibah, hati kita terdetak untuk membantunya. Ketika kita teringat tentang kesulitan orang lain, maka kita tidak melupakannya dan kita ingin memudahkannya. Kesusahan orang lain se-olah2 adalah bagian dari hidup kita sehingga kita tidak berkeinginan atasnya kecuali untuk segera menggantikannya dengan sesuatu yang menyenangkan.

Sesungguhnya Allah telah menetapkan kemampuan bagi setiap orang atas dasar keperluannya. Dan Dialah yang menetapkan kadarnya dengan adil kepada siapa saja dengan ilmu-Nya. Dan kemampuan untuk memberi dari seorang yang beriman (kepada Allah dan hari akhir) adalah berbanding lurus dengan keyakinannya atas kemurahan Tuhannya. Dan kemampuannya untuk tidak meminta kepada manusia sebanding dengan yakinnya atas khasanah Allah yang tak terbatas.

Bila kita berniat untuk memberi, lalu kita melihat apa yang kita miliki dan menimbangnya dengan apa yang kita perlukan, maka biasanya proses memberi tidak akan berlangsung. Akan tetapi bila kita punya niat yang baik (yang kita tahu bahwa hal itu akan menyenangkan Allah) lalu kita menyadari akan kemurahan Allah dan membandingkan pemberian kita dengan apa yang Allah miliki, maka kita akan segera mendapati bahwa Allah maha kaya dan maha memberi kekayaan kepada siapa saja yang disukai-Nya.

Memberi adalah bagian dari akhlak Allah. Dia menjadi senang bila hal itu ada dan menghiasi manusia2 ciptaan-Nya. Dia memberi apa saja yang diperlukan manusia. Bahkan Dia menyediakan secara gratis justru apa saja yang paling diperlukan dan paling panting bagi manusia. Dia memberi udara, Dia memberi makan dan Dia memberi minum. Tidak dibedakan-Nya pemberian-Nya pada perkara2 yang Dia tahu manusia tidak dapat tinggal di dunia ini tanpanya. Dan Dia tetap memberi kepada mereka yang jelas2 menentang dan melawan-Nya.

Maka bila seseorang berkeinginan untuk dapat memberi kepada sesamanya, yakni demi menyenangkan Allah, padahal dia miskin (baik harta, informasi ataupun waktu), pasti Dia akan membantunya dengan cara-Nya sendiri. Dia akan bukakan pintu2 khasanah-Nya dari arah yang tidak dia duga sebelumnya. Akan tetapi bila keinginan itu ‘dikuburnya’ dan dia tidak berusaha untuk mendapatkan kebaikan dari proses memberi, maka Allah tidak akan membantunya dan cukuplah prasangkanya kepada Allah sebagai balasannya.

Subhanallah. 
* 

25/04/2008

Lahan Kita

Subhanallah. Banyak diantara kita yang terlalu `josh' atau terlalu bersemangat dalam usaha agama sehingga kadang2 kita justru terjebak dalam gambaran kita sendiri yang sering salah. Dalam keadaan seperti ini kita ingin memberi citra kepada yang lain bahwa kehidupan kita adalah sebagaimana kehidupan para sahabat (Rasulullah saw). Selanjutnya kita berkeinginan untuk lari dari kenyataan bahwa hari ini sebenarnya kita masih seorang dokter, masih seorang engineer, masih seorang accountant, atau mungkin hari ini kita masih seorang supir taksi, masih seorang pekerja di hotel atau barangkali juga kita masih seorang pekerja yang banyak berhubungan dengan maksiat.

Abdurrahman Shahab, seorang `buzruk' dari India, bercerita tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi diri kita dan orang lain dalam usaha agama. Suatu hari dalam satu pertemuan besar di India, datang kepadanya seorang Amerika yang hitam dan tinggi besar (katanya, mungkin 2 meter lebih tingginya). Dia berhajat agar beliau menjadi penterjemah atas masalah yang ingin disampaikannya kepada Hadzratjee, yakni seorang yang dipandangnya lebih sepuh dan lebih layak kepada siapa dia akan bertanya.

Ketika berjumpa dengan Hadzratjee, maka sang warga Amerika menanyakan apakah dia boleh berhenti dari pekerjaannya dan beralih kepada profesi yang pernah ditekuninya selama di universitas, yakni pada bidang engineering. Atas pertanyaan Hadzratjee, warga Amerika tersebut menyatakan bahwa dia ingin lebih banyak punya waktu untuk agama ini. Menurutnya, ketika keluar di jalan Allah, dia mendapatkan penjelasan2 yang sangat berkesan, kepahamannya semakin baik dan dia berniat untuk memberi waktu lebih banyak kepada agama dan usaha atasnya.

"Apa profesimu saat ini?"
"Pemain basket ball. Saat ini saya adalah peringkat ke-2 terbaik di dunia."
"Berapa pendapatanmu?"
"Banyak… banyak sekali, jutaan dollar." jawabnya dengan bangga.
"Bila kamu tidak lagi bermain basket, dimana kamu akan mendapatkan pendapatanmu?"
"Saya akan menjadi konsultant di bidang engineering, saya punya background-nya."
"Berapa yang akan kamu dapat dari pekerjaan itu?"
"Tidak banyak… akan tetapi saya akan punya banyak waktu dengannya."
"Menurutmu, apakah kegiatanmu saat ini menyalahi syariat?"
"Tidak."
"Ketika kamu bermain basket, adakah hal itu mengganggu sholatmu?"
"Tidak, bahkan bila perlu saya akan sholat di lapangan."
"Kalau begitu kembalilah ke negerimu dan jadilah orang nomor satu di dunia."

Beberapa tahun kemudian, dia benar2 kembali dan menyatakan bahwa dia telah jadi orang nomor 1 dunia dalam basket ball.

Hadzratjee melihat bahwa orang sesibuk dan sekaya warga Amerika tersebut masih dapat memberi masanya untuk mengamalkan agama. Kesibukannya dan hartanya tidak menghalanginya untuk keluar di jalan Allah. Orang seperti ini mestinya akan mampu me-`manage' lebih baik lagi bagi `keduniaannya' pada saat kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya semakin baik. Lagi pula orang seperti ini adalah pilihan Allah agar dia berusaha atas orang lain di lingkungannya. Allah menjadikan dia da'i di antara `kaum' pemain basket. Keputusan untuk membiarkan dia merubah profesinya tentunya akan menjadi keputusan yang tidak bijaksana.

Subhanallah. 
* 

11/04/2008

Warley & Abu Darda

Alhamdulillah, keluarnya kita di jalan Allah selama masa tertentu telah menjadikan kita merasa lebih baik dalam banyak sisi tertentu. Kita juga menyadari bahwa perubahan itu benar2 wujud dalam keseharian kita, sama seperti halnya dengan mereka yang mendapatkan bahwa hati mereka lebih tawajjuh kepada Allah.

Memberi masa kita untuk keluar di jalan Allah adalah sesuatu yang menyenangkan dan mendatangkan kebaikan yang banyak, termasuk di dalamya adalah ketenangan dan barakah yang memang Allah khaskan bagi mereka saja. Ketenangan dan kesejahteraan bathin tidak dapat diungkapkan dengan kata2 secara tepat, akan tetapi keduanya dapat dirasakan dengan jelas oleh para pemiliknya. Kalau saja setiap orang tahu nilai ini, tentu kita akan mendapatkan bahwa tidak seorangpun kecuali mereka akan berebut untuk keluar di jalan Allah.

Barangkali kita harus bersyukur lebih banyak lagi kepada Allah. Tidaklah seorang keluar sepagi atau sepetang di jalan Allah kecuali Dia akan memberi ganjaran yang lebih baik daripada dunia beserta isinya (termasuk berbagai asset para konglomerat) kepadanya. Padahal keluarnya seseorang di jalan Allah bukan karena ilmunya, hartanya, kesehatannya, kedudukannya, kefasihan bicaranya ataupun umurnya. Allah-lah yang memilih dengan ilmu-Nya, menetapkan dengan petunjuk-Nya dan mengijinkan dengan kekuasaan-Nya, siapa saja yang layak untuk dikeluarkan di jalan-Nya.

Pada saat saya berada di India, saya telah berjumpa dengan banyak orang dari berbagai negeri. Memang tidak semuanya dapat saya kenal. Namun demikian, latar belakang dan keberadaan mereka sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa mereka adalah orang2 pilihan-Nya. Sungguh, Allah tidak pernah salah menempatkan mereka dijalan-Nya.

Warley adalah seorang ‘native’ Amerika yang masih muda telah keluar di jalan Allah. Pada hari2 selanjutnya, insya Allah, kita akan dapat menjumpainya di madrasah Zakariyya di Afrika Selatan. Dengannya, seolah-olah Allah mengatakan, bahwa bila kita tidak berilmu, padahal kita ada di jalan-Nya, maka Dia sendiri akan menjadikannya berilmu dengan cara-Nya. Dibiarkannya janggutnya yang coklat kemerahan tumbuh, dililitnya kepalanya dengan sorban, dipanjangkan bajunya; semuanya itu adalah sebagian dari perkara2 yang diyakininya akan dapat menyenangkan Allah dan Rasul-Nya.

Abu Darda adalah orang Indonesia yang berdarah China. Saya mendapatkan bahwa dia telah sampai di beberapa pelosok negeri. Saya berjumpa dengannya di Bangladesh. Bila kita yang berasal dari kota dan datang ke rumahnya, barangkali kita tidak ingin memasuki rumahnya yang ada di lereng bukit; boleh jadi karena tempatnya yang terjal atau boleh juga karena rumahnya yang buruk. Bosnya selalu berganti, karena dia mencari nafkah dengan membantu siapa saja yang mau dibantunya. Miskin, karena terkadang tidak ada sesuatu apapun untuk diberikan kepada istrinya. Namun demikian, Allah memilihnya untuk keluar di jalan-Nya.

Ada yang cacat, ada yang tidak memiliki kedudukan apapun di masyarakatnya, ada yang sudah lanjut usia. Semua keadaan itu tidak menjadikan mereka gentar dan tidak pula menjadikan mereka terhalang untuk keluar di jalan Allah. Kenapa mereka mampu melakukannya? Barangkali karena mereka baik hati, bukankah Allah tidak melihat rupa dan kepemilikan mereka? Bukankah Allah mampu melihat kandungan hati di relungnya yang paling dalam? Bukankah Allah melihat dan menerima amal2 mereka yang ikhlas, sementara kita tidak mengetahuinya sama sekali.

Subhanallah. 
* 

28/03/2008

Nabi Yusuf

Masya Allah. Pesan Allah yang Dia sampaikan sendiri kepada Yusuf as, ketika dia masih kecil, adalah jelas dan terang. Yusuf kecil as bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, dan semuanya bersujud kepadanya. Lewat mimpinya, Allah yang menciptakan alam semesta ini, memberi kabar awal bahwa Dia berkehendak untuk meninggikan derajatnya sedemikian rupa sehingga kesebelas saudaranya, emak-bapaknya akan berada di bawah 'kedudukannya'.

Yusuf kecil masih terlalu lemah untuk dapat 'menutup' kehendak Allah manakala orang tuanya, nabi Yakub as, mengharapkan demikian. Akan tetapi, hakikat yang sebenarnya adalah bahwa bila Allah berkehendak, maka Dia sendiri yang akan memaklumkan rencana-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia berkeinginan agar manusia mengetahui rencana2-Nya dan Dia sendiri akan menunjukkan kepada mereka bahwa apapun yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi.

Meskipun demikian, Allah maha pengampun, maha penyayang lagi ‘terlalu longgar’ toleransi-Nya untuk memaksa setiap ciptaan-Nya patuh kepada rencana2-Nya. Dia begitu sabar sehingga seringkali Dia membiarkan nafsu para pendosa dan para penentang-Nya mengalahkan diri mereka sendiri. Hanya waktu saja yang akan membuktikan siapa saja di antara mereka, manusia2 bebal yang menjadi rugi karena bertentangan dengan kehendak Allah.

Allah berkehendak meninggikan Yusuf as dan rencana ini telah dijelaskan kepada saudara2 Yusuf. Manakala mereka (yang merasa diperlakukan tidak adil oleh orang tua mereka) semakin marah dan semakin benci kepadanya, maka kesepakatan mereka adalah menyingkirkan Yusuf se-lama2-nya. Keinginan mereka adalah ‘membunuh’ Yusuf. Mereka bertindak dan (se–olah2) mereka berhasil dengan kesepakatan tersebut.

Allah berkehendak dan Dia pulalah yang paling tahu bagaimana melaksanakan kehendak-Nya. Dia berkuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menjaga dan mengendalikan segala sesuatu dengan kudrat dan iradat-Nya. Dialah yang menggenggam hati setiap manusia dan Dia pula yang mampu meng-guncang2 atau menenangkan hati setiap manusia. Dia berkuasa dan tidak ada satupun selain-Nya yang setara dengan-Nya.

Demi kekuasaan dan keagungan-Nya, Allah selalu mengajarkan kepada kita bahwa Dia tidak pernah lemah dan lengah meskipun sekejap. Maka sia2-lah mereka yang berusaha untuk menggagalkan rencana dan kehendak-Nya. Sejarah telah mengatakan bahwa pada akhirnya saudara2 Yusuf membenarkan rencana Tuhan mereka. Dan mereka sendiri tidak datang dan memohon kepada Yusuf kecuali dalam keadaan parah lagi hina.

Dan bila hari ini kita dapatkan seseorang atau suatu kaum menentang kehendak Allah, barangkali cara yang terbaik untuk mengetahui akhir ceritanya adalah dengan menjaga kesabaran kita sembari berusaha untuk tetap memenuhi dan menuntaskan setiap perintah2-Nya dengan cara yang paling disukai-Nya, yakni cara yang telah dibawa dan dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Subhanallah. 
* 

14/03/2008

Dia Maha Ada

Alhamdulillah. Allah adalah Tuhan yang kepada-Nya kita kembalikan segala urusan kita. Yang kepada-Nya hati kita menjadi condong dan berusaha untuk bersama-Nya. Yang kepada-Nya kita habiskan harta dan masa yang kita miliki agar semakin dekat dengan-Nya. Yang mana kita merasa bergantung dan tidak kuasa hidup tanpa-Nya. Dia Allah, Tuhan kita.

Dia maujud. Dia ada bukan karena suatu ciptaan. Dia ada bukan karena ada di angan2 manusia. Dia ada bukan karena ada yang mengadakan. Dia tidak muncul dari ketiadaan. Dia ada dengan sendirinya. Dia ada sebelum ada yang disebut segala sesuatu. Dia ada meskipun orang2 tidak dapat menjangkau keberadaan-Nya. Bahkan Dia tetap ada walaupun manusia menolak untuk mengakui keberadaan-Nya.

Dia ada bersama dengan segala sesuatu, namun tidak dengan suatu kesertaan. Dia ada pada segala sesuatu, namun Dia tidak bergantung kepadanya. Dia ada dalam setiap suasana dan keadaan, namun tidak terpengaruh ataupun terkesan dengan apa saja yang telah dibuat-Nya sendiri. Bukan pula Dia lain dari segala sesuatu disebabkan keterpisahan darinya. Dia adalah pelaku, namun tanpa gerakan dan tanpa menggunakan suatu alat apapun.

Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Dan kita bersaksi bahwa, memang benar, tidak ada tuhan selain Allah. Dan kita menyaksikan-Nya pada batas nalar kita yang paling tinggi. Kita menyaksikan keberadaan Allah dari dan pada apa saja yang dapat menyatakan-Nya demikian. Cukuplah keterbatasan akal-fikiran kita menjadi saksi bagi akan adanya Dia yang maha ghaib, yang maha tersembunyi.

Dia juga maha melihat, bahkan sebelum adanya suatu apapun untuk dapat dilihat. Dia tidak melihat sebagaimana kita melihat sesuatu, karena Dia tidak memerlukan suatu media apapun untuk melihat. Dia maha melihat meskipun kita selalu gagal untuk membayangkan bagaimana penglihatan-Nya. Sungguh, Dia tidak serupa dengan makhluk2-Nya.

Dia sendiri, disebabkan tidak adanya sesuatu yang dengannya Dia merasa terikat ataupun gelisah bila terpisah darinya. Dia berdiri sendiri, disebabkan tidak adanya sesuatu yang Dia merasa perlu atau bergantung kepadanya. Dia maha suci dari segala sifat yang dimiliki setiap makhluk-Nya. Sungguh, tidak ada tuhan kecuali Allah.

Subhanallah. 
* 

29/02/2008

Dakwah Ila Allah

Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar. “Waman ahsanu qaulan mimman da’aa ilallaahi wa ‘amila sholihaw wa qoola innani minal muslimiin.”

Artinya, “Dan Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah dan mengerjakan amal saleh dan ia berkata ‘Sesungguhnya saya termasuk orang2 yang berserah diri’.” (QS. 41:33)

Da’a ilallah adalah usaha kita dalam mengajak manusia kepada Allah. Usaha ini disebut dengan dakwah. Dakwah adalah kerja yang sangat besar dan sangat agung. Kebesaran kerja ini nampak jelas dari siapa saja yang pernah mengembannya. Nabi2 dan rasul2, mereka adalah orang2 pilihan yang kepadanya Allah amanahkan kerja ini. Inilah kerja yang pada gilirannya menentukan keputusan Allah atas manusia (kaum atau negeri), jaya atau binasa.

Ketika Allah memutuskan nabi Muhammad saw sebagai pamungkas para nabi, maka hal ini sama saja artinya dengan menjadikan ummatnya sebagai pewaris dan penerus kerjanya. Dengan ilmu-Nya, Dia mengetahui bahwa ummat ini memang layak untuk mengembannya hingga hari kiamat. Sungguh, ini suatu kehormatan khusus dari-Nya yang tidak Dia berikan kepada ummat2 sebelum kita.

Sayangnya, kebesaran kerja yang mulia ini seakan-akan terkubur oleh bayang2 kebesaran dunia yang fana. Bila kita berjalan, maka akan kita jumpai hampir di setiap pelosok negeri, orang2 yang tidak lagi paham dengan kerja ini. Bahkan, karena sudah sedemikian buruknya pemahaman akan kerja ini, orang2 yang dianggap ‘alim’-pun mengabaikan kekuatan besar yang terkandung di dalamnya. Mereka tidak lagi yakin dengan kerja besar ini. Mata mereka telah disilaukan dengan pangkat2 yang sebenarnya tidak memberi kepada pemiliknya kecuali beban2 yang berat.

Dakwah telah dibatasi sedemikian rupa sehingga sebagian dari kita menyangka bahwa kerja ini adalah hanya untuk mengajak orang2 kafir ke dalam Islam. Sebenarnya tidaklah demikian. Adzan adalah dakwah yang sempurna, sebagaimana yang kita ucapkan dalam doa kita. Meski adzan ditujukan kepada setiap manusia, nyatanya adzan lebih ditujukan kepada kaum muslim daripada kaum lainnya. Sekali lagi, adzan adalah dakwah yang sempurna, dan setiap dari kita (lelaki) mempunyai kesempatan yang sama untuk mengumandangkannya.

Adzan adalah dakwah yang sempurna, dan kita tahu bahwa cacat tubuh ataupun kekurangan kita (dalam keilmuan) tidak boleh menghalangi kita untuk menyampaikannya.

Subhanallah. 
* 

15/02/2008

Usaha Rasulullah


Laa ilaaha illallah. Bila seseorang yang kita kenal kefasikannya dan suka berdusta datang kepada kita, lalu dia katakan bahwa seseorang tengah berencana untuk mengganggu anak atau istri kita, tentu setidaknya kita akan merasa khawatir juga. Bila ada seorang yang begitu banyak orang mengetahui kejujurannya, mengenal kebajikannya dan bahkan seluruh dunia menyaksikan kebenarannya, datang dan memberi kabar bahwa kehidupan dunia ini sementara dan permainan belaka, bahwa kehidupan sesungguhnya ada di akhirat, lalu kenapa kita meragukannnya? Benar, kita tidak mengatakan keraguan ini, akan tetapi apa yang kita lakukan jelas menunjukkan hal ini.

Bila kita coba panjangkan, pertanyaan tadi boleh ditambah seperti kenapa harus ada ratapan bagi musibah yang datang? Kenapa kita biarkan iri dan dengki membakar habis hubungan baik antar kita. Kenapa kita tega membenamkan sifat kasih sayang yang Allah berikan dengan amarah dan kebencian kepada saudara kita? Kenapa tidak ada rasa takut di dada ini ketika kita menerima rejeki lebih banyak sementara kita tidak mengetahui siapa saja yang berhak atas rejeki yang kita terima? Kenapa kita lebih suka dibebaskan sedikit hari untuk penjara yang abadi dari pada susah di hari ini untuk kejayaan yang selama-lamanya? Dan kenapa-kenapa yang lainnya.

Kenapa demikian? Karena hari ini pandangan kita terpaku pada dunia yang nampak, sedangkan akhirat tidak nampak, tidak dapat dibayangkan, lagi pula saat itu belum lagi sampai kepada kita. Kondisi kita secara umum begitu parahnya. Bukan saja kita tidak memahami perkara akhirat dan semakin jauh dari Allah, robb kita, bahkan hampir-hampir kita tidak mengenal-Nya lagi. Kita telah berbuat dan menempuh jalan yang tidak saja berbahaya, namun juga tidak akan menghantar sampai tujuan. Maka cara terbaik untuk memperbaiki kondisi ini adalah dengan kembali ke pangkal jalan. Berlindung kepada Allah dari ketersesatan dan bergerak hanya pada jalan yang telah ditempuh oleh mereka yang telah sukses di akhirat.

Tidak seorangpun yang memahami buruknya keadaan dirinya sendiri sehingga dia bersihkan hatinya. Tidak akan bersih hatinya kecuali dengan meninggalkan segala perbuatan sia-sia yang menjerumuskannya ke dalam dosa. Tidak akan berkurang dosanya hingga dia kendalikan nafsunya. Tidak akan tunduk nafsunya sampai dia tinggalkan angan-angan. Tidak akan lari angan-angan darinya kecuali dengan usaha untuk tidak mencintai dunia. Dan tidak seorangpun sanggup menghinakan dunia kecuali dengan usaha Rasulullah.

Lalu apakah usaha Rasulullah itu? Usaha ini hanyalah himpunan dari beberapa amalan yang setiap orang telah ditakdirkan-Nya mampu untuk mengamalkannya baik secara individual maupun secara komunal, yakni:
  1. Memperbaiki aqidah dengan dakwah atas iman-yakin yang benar.
  2. Menghilangkan kebodohan dengan ta'lim wa ta'lum.
  3. Memperbaiki hubungan vertikal dengan menyempurnakan dzikir dan ibadah.
  4. Memperbaiki hubungan horizontal dengan khidmat, dengan merendahkan keakuan demi kemuliaan agama.

Subhanallah. 
* 

01/02/2008

Kiat Melunasi Hutang

Alhamdulillah. Kamu telah datang dan menceritakan tentang keadaanmu. Kamu jatuh bangkrut atas usaha yang telah kamu bina selama ini. Kamu berbicara se-akan2 kamu tidak percaya dengan keadaanmu sendiri. Demikian banyak orang yang mendatangimu dan kamu tak punya sesuatu apapun untuk membayar tagihan mereka. Demikian banyaknya hutang yang harus kamu tanggung sehingga kamu se-olah2 merasa bahwa kamulah orang yang paling menderita di dunia saat ini.

Tenang saja nak. Adakalanya memang demikianlah perjalanan hidup anak manusia. Dengan cara demikian, sebenarnya Allah, Tuhanmu, berkehendak memasukkanmu ke dalam golongan mereka yang sabar. Memang benar, ada banyak cara yang Dia miliki untuk menunjukkan kasih sayang-Nya kepada hamba yang disukai-Nya, akan tetapi cara inilah yang kiranya Dia pilih khusus buatmu. Dibuat-Nya keadaan yang menjadikanmu 'dipaksa'  untuk belajar menahan atas segala keinginanmu. Belajar untuk menahan marah atas amarah orang lain.

Ketika kamu berada dalam keadaan seperti ini, tentu kamu menyadari betapa lemah dan rendahnya kedudukanmu. Bila hidup ini diumpamakan sebagai putaran roda,  tentu kamu berada pada posisi terbawah. Semua orang yang datang kepadamu telah menempatkan diri mereka di atasmu. Seakan mereka mempunyai hak untuk marah atau menghujatmu karena kelalaianmu. Meskipun posisimu layak untuk dikasihi, tidak ada salahnya kamu mengasihi mereka yang marah kepadamu. Ketahuilah, mereka tak akan berbuat seperti itu seandainya mereka memahami arti pentingnya menangguhkan waktu pembayaran hutang.

Sebenarnya sama saja bagi Allah terhadap mereka yang di atas atau yang di bawah. Bagi keduanya ada banyak kesempatan untuk meraih kebaikan di sisi-Nya. Barang siapa yang memberi jangka waktu kepada si peminjam agar ada kemudahan untuk membayar hutangnya, maka Allah swt. akan memberi jangka waktu yang cukup baginya untuk bertaubat sebelum matinya, bahkan Dia akan memberi ganjaran sedekah setiap hari sejumlah harta yang dipinjamkannya sampai yang berhutang mengembalikannya.

Bila seseorang dalam keadaan sempit untuk membayar hutang, maka niat dan kesungguhan dalam hati untuk membayarnya akan menjadi asbab bagi turunnya bantuan Allah dan kemudahan dari-Nya bagi melunasi hutang-hutangnya.

Umpama saja hutangmu sebesar gunung dan kamu menyangka berat benar untuk melunasinya, tetap saja penting buatmu untuk berniat membayarnya. Karena barang siapa yang tidak punya niat untuk membayar hutang, Allah swt. akan menuntutnya sebagai pencuri, bahkan pahala kebaikannya akan dialihkan kepada yang memberi hutang dan jika masih belum terpenuhi, maka bersiaplah menanggung dosa-dosa orang tersebut.

Bila kamu memiliki kemampuan minimal untuk membayarnya, segerakan saja pembayaran yang dapat kamu lakukan,  karena termasuk sebaik-baik manusia adalah mereka yang mudah mengembalikan hutang. Dan barang siapa yang menunda-nunda pembayaran hutang padahal ia mampu untuk melakukannya, maka akan bertambahlah satu dosa baginya setiap hari sampai dia melunasinya.

Anakku, bila saat ini kamu dililit hutang sedemikian rupa dan kamu belum mampu melunasinya, bacalah sebanyak-banyaknya ayat di bawah ini,

Katakanlah, "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS 3:26)

Dan berikut ini adalah doa pelengkap yang seharusnya kamu sering memanjatkan kepada-Nya agar kamu mudah membayar hutang,

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan apa saja yang Engkau halalkan dari melakukan apa saja yang Engkau haramkan. Juga kayakanlah aku dengan keutamaan-Mu dari siapa saja selain-Mu."

Atau doa yang berikut,

"Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan gundah gulana. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan dan ketakutan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan tekanan manusia."

Maka apabila kamu memohon kepada Allah, iringilah doamu dengan sangka baik kepada-Nya bahwa Dia pasti memberimu jalan keluar dari lilitan hutang ini. Juga perlu diingat, hendaknya kamu tidak terburu nafsu dalam upaya melunasi hutang2-mu. Meskipun salah satu sifat manusia adalah ter-gesa2, berusahalah bersikap santai dengan tetap menguatkan niat untuk melunasinya sembari menjaga tawajuh pada-Nya. Sungguh, Dia akan membantumu akan tetapi tidak dengan jangka waktu yang kamu maui. Dia akan membantumu dengan batasan waktu yang ditentukan-Nya sendiri.

Subhanallah. 
* 

18/01/2008

Tentang Keimanan

Alhamdulillah. Allah adalah Rabb kita, Tuhan kita, Dia maha pembuka. Sesungguhnya kemampuan untuk membuka atau menguak sesuatu telah Dia anugerahkan kepada manusia. Meski demikian, apa yang Dia berikan kepada manusia yang menjadikan manusia kagum kepada dirinya sendiri, adalah bagian yang sangat kecil dari apa yang Dia miliki. Semoga Dia yang maha pembuka memberimu kemampuan untuk menguak dan memahami apa yang menjadi kehendak dan keinginan-Nya.

Dan salah satu yang diinginkan Allah dari kita adalah agar kita memiliki iman yang sempurna kepada-Nya atau agar keyakinan kepada-Nya tidak berbelah bagi. Bila kita memiliki keyakinan kepada-Nya hingga 99.99%, maknanya kita tetap saja mempunyai ketidak-yakinan sebesar 0.01% kepada-Nya. Tidak yakin kepada-Nya sama saja dengan yakin kepada selain-Nya. Bila kita yakin kepada selain-Nya, jatuhlah kita ke dalam syirik. Padahal syirik adalah sebesar-besarnya dosa. Dia memaafkan setiap dosa yang kita buat kecuali dosa syirik.

Adalah Dia berkehendak agar kita memiliki iman yakin yang bulat 100%. Yakin bahwa Dialah yang menciptakan kita. Dialah yang menghidupkan kita dan Dia pula yang memelihara kita. Dia yang menghadirkan kita di dunia untuk suatu jangka waktu yang tertentu, Dia pula yang mencukupi segala keperluan kita, Dialah yang maha memberi rejeki. Dia juga yang menjadikan kita sehat atau sakit. Dia yang menciptakan segala suasana dan keadaan supaya diketahui siapa yang paling baik amalnya. Dia yang menghidupkan, Dia pula yang berkuasa untuk mematikan setiap yang hidup.

Luar biasa, tidak ada sedikitpun kekhawatiran bagi seorang yang sempurna yakinnya. Apa saja yang sudah ditetapkan-Nya di dunia ini untuk menjadi bagiannya, pasti akan sampai kepadanya. Akan tetapi apa saja yang telah ditetapkan-Nya bukan untuk menjadi miliknya, pasti tidak akan sampai kepadanya meski dia berusaha mendapatkannya siang dan malam, bahkan meskipun seluruh makhluk dikerahkan untuk membantunya.

Hidup ini terasa mudah bagi mereka yang memiliki iman yakin yang sempurna kepada-Nya. Tidak ada kesulitan dan kesusahan yang menjadikannya bersedih (yang berkepanjangan). Tidak pula musibah menjadikannya berduka cita. Seolah-olah dia mengetahui hikmah dan hakikat setiap kejadian yang berlaku. Dan boleh jadi demikianlah ilmu dan hikmah yang Allah hadiahkan kepada mereka yang telah menyempurnakan keimanan dan keyakinannya.

Sesungguhnya Allah telah memberi jaminan rejeki bagi siapun yang bernyawa. Bila kita bekerja di suatu instansi, yakinlah bahwa Dia menyampaikan rejeki kita melalui cara yang demikian. Bila kita berdagang, melalui dagangan tersebutlah rejeki dari-Nya sampai kepada kita. Bila kita menganggur, tetap saja ada cara bagaimana Dia memelihara para penganggur. Sungguh, Tidak ada seorangpun yang diperkenankan-Nya hidup di dunia ini, kecuali Dia cukupkan keperluannya dan Dia berikan seluruh rejeki yang telah ditetapkan-Nya untuk menjadi bagiannya.

Bila seseorang telah yakin dengan perkara demikian, tentu dia akan berusaha untuk mendapatkan apa saja yang diperlukannya namun tidak ada dalam 'daftar' pemberian gratis yang datang dari-Nya. Amal, yang ini adalah tangggung jawab dari setiap diri untuk mendapatkannya. Bila seseorang menjadi mudah atau memudahkan dirinya untuk perkara yang sudah ditetapkan-Nya, maka sungguh dia akan memiliki cukup waktu untuk melakukan amal apa saja. Tentu saja, setiap orang tidak ingin menjadi bodoh dengan melakukan amal yang tidak berguna.

Subhanallah. 
*

04/01/2008

Dia kekasih Allah

Alhamdulillah. Nabi Muhammad saw. adalah Rasulullah, hamba-Nya sekaligus kekasih-Nya. Tidaklah seseorang termasuk ke dalam golongan mereka yang berilmu dan berpengetahuan lagi lapang dada, kecuali mengakuinya demikian. Kehadirannya di dunia ini dan apa-apa yang dilakukannya membenarkan apa yang telah diberitakan para nabi dan utusan Allah sebelumnya. Seakan-akan dunia ini dicipta hanya untuk menyempurnakan kehadirannya, akan tetapi memang demikian kehendak Allah terhadap kekasih-Nya.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela dilahirkan sebagai anak yatim. Bapaknya meninggal pada saat awal-awal lagi sebelum dia lahir. Salah satu tanda kerelaannya adalah dia tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang terpuji, baik tingkah laku maupun perangainya. Adalah suatu kenyataan bahwa dia mencintai anak-anak yatim dan dia mencintai orang-orang yang mencintai anak-anak yatim.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela beristrikan Khadijah ra. yang janda. Salah satu tanda kerelaannya adalah dia tidak mencari istri lain hingga Allah swt. sendiri menarik istrinya ke haribaan-Nya dan menetapkan batasan waktu bagi pendampingannya (yang sekitar 25 tahun). Dia mencontohkan kepada kita agar kita iba dan kasih kepada mereka yang janda.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela untuk binasa demi dakwah atau usaha agama. Salah satu tanda kerelaannya adalah seperti yang terkandung dalam kata-katanya ketika para pemuka Quraisy datang kepada pamannya untuk menghentikan usaha yang dilakukannya. Mereka menawarkan harta, wanita, dan kedudukan yang sangat menjanjikan kepadanya. “Wahai paman, sekiranya mereka bisa meletakkan matahari di tangan kanan dan bulan di tangan kiri, niscaya aku tidak akan berhenti dari usaha ini atau aku binasa karenanya.”

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela dihina dan disakiti demi ketinggian dan tersebarnya agama yang haq. Salah satu tanda kerelaannya adalah ketika malaikat menawarkan jasa kepadanya untuk menghancurkan penduduk Tha’if yang menzhaliminya, dia malah menenangkan malaikat yang ‘emosi’, karena menurutnya kaum tersebut adalah kaum yang belum paham. Bila saja tidak mereka, tentu anak cucu mereka yang akan menerima agama ini. Dia mengajarkan cara terbaik untuk menyebarkan agama yaitu dengan landasan korban atas diri sendiri tanpa perlu menghancurkan mereka yang justru merupakan lahan dakwah.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela mengunjungi mereka yang berasal dari kelas bawah. Salah satu tanda kerelaannya adalah dia mendatangi Bilal ra. Dia tidak datang kecuali agar agama ini sampai kepada mereka yang dijauhkan oleh kondisinya. Tidak disampaikannya agama melainkan dengan khidmat atau bantuan yang pada gilirannya hal itu menundukkan hati dan jiwanya. Ditunjukkannya kepada kita bagaimana awal agama ini dipikul dan digerakkan terutama oleh mereka yang tidak memiliki apapun kecuali yakin yang benar kepada pemilik yang sesungguhnya dari segala sesuatu.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela menjadi bagian dari kaum masakin. Salah satu tanda kerelaannya adalah ketika Allah menawarkan pilihan melalui malaikat-Nya untuk menjadi nabi yang raja atau nabi yang kaya, dia lebih memilih untuk menjadi seorang nabi, hamba-Nya yang sehari kenyang sehari lapar. Dengan cara seperti itulah dia dapat bersyukur ketika kenyang dan bersabar ketika lapar. Kepada sahabat-sahabatnya yang miskin, dia memberikan kabar gembira bahwa orang-orang miskin akan memasuki surga setengah hari lebih awal daripada orang-orang kaya, dan setengah hari di sana kadarnya sama dengan lima ratus tahun.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela beribadah berpanjangan di malam hari. Salah satu tanda kerelaannya adalah ketika sang istri yang tahu persis bagaimana keadaannya, menanyakan perihal ibadahnya yang banyak yang sering mengakibatkan kakinya menjadi bengkak, sedangkan dia adalah kekasih-Nya yang maksum, yang sudah pasti diampuni kesalahan dan dosa-dosanya. Meski sudah jelas tempatnya, dengan ibadahnya dia ingin tetap bersyukur atas pilihan dan apa saja yang Allah tetapkan baginya.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela makanannya dari gandum yang kasar dan tidurnya di atas tikar. Salah satu tanda kerelaannya adalah seperti yang ditunjukkannya ketika dalam satu keadaan Umar bin Khattab menjumpainya yang membuat dia sendiri gagal membendung aliran air matanya. Tidak dilihatnya kecuali makanan kasar yang ada di sisi rasulullah, sedangkan kesan guratan-guratan dari tikar yang ditidurinya nampak jelas membekas di badannya. Dalam pandangannya, kaisar Rum dan kisra Persi yang ingkar telah memperoleh kebaikan dunia, apalagi seharusnya kekasih dan utusan Allah ini. Rasulullah mengingatkan bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan kekal.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia juga rela melakukan hal-hal yang hari ini (karena kebodohan kita) kita tidak rela untuk melakukannya. Dia menjahit dan menambal sendiri pakaiannya, dia memperbaiki sepatunya, dia makan sebagaimana seorang hamba makan, dia makan bersama bahkan dengan sahabat dari kalangan yang terendah pada nampan yang sama. Dia menjamu siapa saja yang datang kepadanya. Dia mengunjungi siapa saja yang ada dalam kesusahan dan musibah. Dan dia juga tidak malu memberi sedikit, karena memang itu yang dimilikinya.

Dia kekasih Allah, akan tetapi dia tidak rela kalau ummat ini jatuh ke dalam kebinasaan. Dia tidak rela kalau ummat ini ada dalam adzab Allah. Dia mencemaskan kita. Telah diperlihatkan kepadanya neraka yang apabila seseorang melihatnya, meski satu bagian yang paling kecil, niscaya akan hilang seluruh senyum, canda dan tawanya hingga akhir hayatnya. Dia mengkhawatirkan keadaan kita, bagaimana setiap dari kita dapat dipastikan selamat. Demi cintanya kepada ummat ini, maka kecemasan Rasulullah ini dibawanya hingga akhir hayatnya, ‘ummati, ummati, shalat, shalat’.

Kita sering katakan bahwa kita mencintai Rasulullah. Sungguh beruntung orang-orang yang memiliki kecintaan yang satu ini, karena bila sesuatu dimuliakan, biasanya segala sesuatu yang terkait dengannya juga akan menjadi mulia. Rasulullah, kita menyadarinya atau tidak, adalah mulia baik di sisi manusia apalagi di sisi Allah. Bila kecintaan itu ada, maka hal itu seperti tali pengait antara yang mencintai dan yang dicintai. Di dunia kita akan dimuliakan, di akhirat kita akan bersama orang yang dicintainya.

Saat ini seolah-olah kemuliaan kita dan kemuliaan ummat ini hilang. Padahal tanda-tanda yang boleh kita kenali hanya selagi kita ada di dunia ini. Kita belum lagi sampai ke akhirat, hingga kita tidak tahu apakah kita bersama orang yang kita cintai atau tidak. Bila di dunia ini saja kita menjadi hina atau dihinakan dalam hal keduniaan, tentu ada yang salah dalam percintaan ini. Kita perlu ishlah diri dan berupaya sungguh-sungguh untuk itu.

Orang yang bercinta cenderung ‘mabuk’ kepada segala sesuatu yang ada kaitannya dengan orang yang dicintainya. Mungkin kita tidak pernah ‘mabuk’ cinta sebagaimana Qais Amiri dalam kisah cinta Laela Majnun yang abadi. Dia mencintai apa saja yang ada kaitannya dengan Laela. Akan tetapi demikianlah syarat dalam bercinta, karena bila hal ini tidak terjadi, sesungguhnya di situ tidak ada cinta.

Kita mencintai Rasulullah saw. Namun demikian, kenapa kita tidak menampilkan diri dalam keseharian sebagaimana Rasulullah berpenampilan? Kenapa kita tidak berbuat selama hari-hari kita sebagaimana Rasulullah berbuat sesuatu yang istiqomah dilakukannya? Kenapa kita tidak menggunakan hati dan fikir kita sebagaimana Rasulullah berpikir dan merisaukan ummat ini? Kenapa kita malu menyatakan cinta kita dengan cara yang demikian?

Hanya kepada Allah jualah kita memohon taufiq dan hidayah-Nya. Semoga Dia yang maha luas ilmunya, maha sabar dan maha pemberi, mengaruniakan cinta yang sejati kepada kita. Cinta yang tumbuh secara bertahap namun pasti menjadi sempurna. Cinta kepada-Nya dan cinta kepada Rasul-Nya dan cinta kepada orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Sungguh, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan-Nya.

Subhanallah. 
* 

Doa Jodoh

Alhamdulillah. Nabi Musa (as) berdoa, "Robbi innii limaa anzalta ilayya min khairin faqier." Artinya: Ya Tuhanku, sesungguhny...